Seorang mukmin akan akan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Hal tersebut ia rasakan karena dirinya mengerti adab terhadap dirinya. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk senantiasa membersihkan jiwanya.

Bagi seorang mukmin, persoalan hidup bukan hanya perkara fisik semata, tetapi juga masalah hati. Sayang banyak manusia tertipu dan hanya fokus dengan urusan materi semata, dan lupa dengan perkara yang lebih penting dari hal tersebut.

Maka benarlah ucapan salafussholeh ketika ada yang berkata,

يا عجباً من الناس يبكون على من مات جسده ، ولا يبكون على من مات قلبه

Sungguh aneh manusia, mereka menangis jika mati tubuhnya tetapi tidak menangis ketika mati hatinya.

Padahal, sungguh kematian hati adalah perkara yang jauh lebih dahsyat. Jika tubuh yang mati, maka hal tersebut hanya memutus dengan perkara dunia ini saja, tetapi jika hati yang sudah mati, maka kerugian bukan hanya di dunia, tetapi juga sampai ke akhirat.

Inilah yang membuat seorang mukmin akan sangat sibuk menata hatinya. Mereka ingin selain hatinya bersih, mereka juga senantiasa beramal dengan niat yang ikhlas kepada Allah ta’ala. Ia tidak ingin ada sedikit maksiat atau kotoran apapun yang menodai hatinya.

Bagi seorang mukmin, hati menjadi seperti raja dan anggota tubuh yang lain seperti tentaranya. Dengan demikian, hati akan sangat menentukan baik buruknya amal perbuatan seseorang, apakah pada kebaikan atau kejelekan.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang jika baik, maka baik pula semua anggota tubuhnya, tetapi jika sudah rusak, maka sudah pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati (HR. Bukhari)

Apalagi seorang muslim betul-betul menyadari bahwa akan datang suatu masa yang ketika itu tidak ada lagi manfaat dari semua apa yang diperjuangkannya di dunia ini, kecuali mereka yang menghadap Allah ta’ala dengan hati yang selamat.

Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Hari yang pada saat itu tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali mereka yang menemui Allah dengan hati yang selamat (Q.S. Assyuara’:88-89)

Ayat di atas senada dengan firman Allah ta’ala,

قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها

Sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan merugi mereka yang mengotorinya (Q.S. Assyams: 9-10)

Mereka yang mensucikan hatinya akan mendapatkan keuntungan karena jiwanya tenang, dan ia akan fokus untuk mengejar akhirat. Baginya tidak ada waktu untuk bersantai kecuali sibuk menambah keimanan dan amal sholeh setiap detiknya.

Ia sadar betul bahwa jika hal tersebut tidak ia lakukan, maka niscaya dirinya akan termasuk di antara orang-orang yang merugi. Karena Allah ta’ala telah menerangkan bahwa hanya iman, amal sholeh, dan dakwah yang bisa membuat kita selamat.

Ia tidak ingin seperti orang kafir yang tertipu dengan kehidupan dunia ini. Mereka sibuk dengan dosa dan maksiat yang semakin menutupi hati mereka dari kebenaran. Akhirnya mereka pun menjadi semakin jauh dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,

كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون

Sekali-kali tidak, tetapi mereka menutupi hati-hati mereka dari apa yang mereka lakukan (Q.S. Al Mutaffifin:14)

Maka seorang mukmin hatinya akan begitu sensitif merasakan dosa. Jika pun jatuh pada dosa, maka setiap kali ada maksiat yang ia lakukan ia segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Seakan dosa itu langsung menghukum mereka karena ia menutupi hatinya yang bersih dengan noda.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتةٌ سوداء في قلبه. فإن تاب ونَزَع واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلَّف بها قلبه

Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia melakukan suatu dosa maka terdapat titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dan beristighfar, maka hilang darinya. Tetapi jika ia menambah dosanya, maka bertambah hitam tadi sampai menutupi hatinya (HR Tarmidzi)

Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua termasuk di antara hamba yang mengerti adab terhadap diri kita, dan bisa senantiasa berusaha untuk membersihkan jiwa ini. Aamin.

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro