Ustadz Wahyudi, Lc,

Kepada orang lain, dahulukan sifat husnuzhan. Banyak manfaat dari husnuzgan ini, seperti:
1⃣ Husnuzhan atau baik sangka akan membuat setiap pribadi menjadi lapang dan mengalami ketenangan jiwa.
2⃣. Husnuzhan dengan sesama akan membuat komponen umat Islam Islam bersatu, saling bekerjasama dan tidak terjadi perpecahan.
3⃣. Husnuzhan atau baik sangka menjadi modal awal kekuatan umat Islam.
4⃣. Sebaliknya suuzan atau buruk sangka hanya akan menimbulkan “kesempitan dada” bagi pelakunya.
5⃣. Suuzan atau buruk sangka menjadi pemicu awal manusia untuk saling membenci dan memusuhi saudaranya.

☎Bagaimana jika ada org yg tdk kita kenal dan ada tanda2 pelaku kriminal?

Tetap saja kita harus husnuzhan. Hanya saja, disertai dg sikap waspada. Kita tidak tau apa yg ada dalam hati seseorang.

Jika ada orang ngasih berita bahwa si fulan jahat?

Tetap sj dahulukan husnuzan. Jika menyangkut urusan kita, kita bisa bertabayun kpdnya (klarifikasi). Jika bukan urusan kita, kita tdk boleh turut campur urusan org lain.

Dalil husnuzhan ini banyak:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengunjing sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”(QS. Al-Hujurat, 49;12)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Wahai orang-orang Yang beriman! jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum Dengan perkara yang tidak diingini Dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa Yang kamu telah lakukan.” (QS. Al-Hujurat, 49; 6)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang tidak kamu ketahui; Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati nurani, semua anggota itu tetap akan diminta pertanggungjawabannya (ditanya di akhirat) tentang apa yang dilakukannya.” (Surah Al-Isra 17 ; Ayat 36). Wallahu a’lam