Breaking News

Tafsir Al-Quran

Kehancuran Bangsa

Dr. Shabah Syamsi

Dr. Shabah Syamsi

Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرً

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (Q.S. Al Isra [17] : 16-17)

Orang bijak adalah orang yang mampu belajar dari sejarah masa lalu untuk dijadikan pelajaran bagi kebaikan masa yang akan datang. Sejarah kemajuan dan kehancuran suatu kaum, bangsa, negeri, lembaga, maupun kelompok, harus dijadikan pelajaran agar kemajuan itu dilestarikan dan ditingkatkan. Sementara sejarah kehancuran itu dijadikan pelajaran agar tidak terjadi pada generasi kita. Pepatah kita mengatakan, jangan pernah kehilangan tongkat dua kali.

Dalam Muqaddimahnya, Ibn Khaldun membuat prediksi bahwa sejarah suatu negeri biasanya mengalami lima fase; fase pendirian, fase pembangunan, fase puncak, fase kemunduran, dan fase kehancuran. Fase pendirian dibangun oleh para founding fathers (para pendiri) yang dengan cita-cita dan semangat perjuangan mengerahkan seluruh daya dan kekuatan, mampu mewujudkan bangunan sebuah negeri. Fase kedua, diprediksikan oleh Ibn Khaldun, sebagai fase pembangunan oleh generasi penerusnya. Pada fase ini, terjadi pembangunan yang pesat, karena generasi ini mampu menghayati nilai perjuangan para pendiri yang kemudian dipraktikkan dalam mewujudkan kejayaan. Fase ketiga, negeri itu berada pada fase puncak kejayaan. Generasi ini adalah generasi yang memetik hasil perjuangan. Generasi ini mulai melupakan nilai perjuangan. Generasi ini menjadi generasi penikmat tanpa tahu jerih payah dan proses perjuangan. Fase berikutnya adalah fase kemunduran, karena generasi yang memimpin negeri itu sudah melupakan nilai perjuangan dan hanya menjadi penikmat buah kejayaan. Akhirnya, sampailah waktunya fase kelima, yaitu fase kehancuran, di mana negeri itu nyaris tinggal puing-puing, hancur tercabik-cabik tidak mampu bangkit lagi.

Al Qur’an memandang kejayaan dan kehancuran sebagai sunnatullah, yaitu karena ada faktor-faktor yang membawa kepada kejayaan dan kehancuran itu. Bila faktor-faktor kejayaan diikuti maka jayalah negeri itu, bangsa menjadi maju dan dinamis. Al Qur’an menggambarkannya sebagai baldah thayyibah wa Rabb Ghafûr (negeri yang baik dan Tuhan penuh pengampunan, Q.S. Saba’ [34] : 15). Tapi bila faktor-faktor kejayaan tidak diindahkan, ditentang dan didustakan, maka kehancuran akan menimpa bangsa dan negeri tersebut. Allah akan menunjukkan kuasa-Nya, “maka sungguh akan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Q.S. Al Isrâ’ [17] : 16).

Dalam Al Qur’an, terdapat beberapa kata untuk menunjuk pada kehancuran suatu negeri, bangsa, atau generasi, antara lain dari akar kata: halaka (menghancurkan) terdapat dalam 71 ayat, fasada (merusak) terdapat dalam 50 ayat, dan kata dammara (membinasakan) terdapat dalam 8 ayat. Secara umum, kehancuran itu terjadi karena ulah tangan manusia itu sendiri (Q.S. al-Rû [30] : 41), bermewah-mewah dan bermegah-megah (Q.S. Al Mukminûn [33] : 33, 64, Al Anbiyâ’ [21] : 13, Hûd [11] : 116, Az Zukhruf [43] : 23), berlaku zalim (Q.S. Ali Imrân [3] : 117, Al An’âm [6] : 47, Al Anfâl [8] : 54), dan mendustakan kebenaran (Q.S. At Taubah [9] : 42). Dengan kuasa Allah, kehancuran itu terjadi dengan berbagai cara. Mungkin kehancuran itu berupa bencana alam seperti hujan dan banjir seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh; gempa, angin topan dan tsunami pada kaum Ad, Fir’aun, Tsamud; bencana berupa penyakit seperti yang terjadi pada kaum Nabi Shaleh, Luth, dan Musa; atau diserang musuh seperti yang terjadi pada Fir’aun dan para pejabat tingginya.

Bermegah-megah Menjadi Gaya Hidup
Kekayaan dan kemewahan berperan besar dalam meruntuhkan sebuah bangsa. Apalagi bila yang memiliki gaya hidup bermewah-mewah dan bermegah-megah itu adalah para penguasa, para penegak hukum, para pengambil kebijakan, para tokoh agama, dan para pemimpin dari berbagai lapisan masyarakat. Hal itu, demikian menurut Buya Hamka, karena mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kesempatan luas untuk mendapatkan berbagai fasilitas (Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid XV, h. 33-34). Kekayaan negara mestinya diatur sedemikian rupa untuk kesejahteraan rakyat, supaya tidak terjadi ketimpangan sosial dan agar terwujud pemerataan secara berkeadilan. Tapi kehancuran terjadi, karena mereka merampas habis kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, dan partainya. Rakyat hanya mendapatkan sisa-sisa dan ampasnya saja. Kepentingan mereka menjadi fokus perhatian. Kepentingan rakyat hanya untuk menaikkan popularitas. Fasilitas mereka dibangun dengan biaya fantastis mahal, menghabiskan anggaran negara yang sangat besar. Fasilitas rakyat dibuat sambil lalu dan asal-asalan. Mereka berperilaku korup untuk memuaskan syahawât (keinginan-keinginan nafsu). Mereka tidak tersentuh hukum karena penegak hukum berada dalam genggamannya.

Cinta harta dimiliki setiap orang, apapun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya. Cinta harta merupakan fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia. Firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imrân [3] : 14). Tetapi bila cinta harta sudah menjadi gaya hidup, tujuan akhir, dengan menghalalkan segala cara, apalagi bila pelakunya adalah para pemimpin negeri, para penegak kebenaran, para tokoh agama, maka tinggal tunggu saat kehancurannya.

Rasulullah Saw menyebutkan hubb al-dunyâ (cinta harta duniawi) sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau bersabda: “Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umatku adalah harta dunia.” (H.R. Muslim)

Fitnah harta yang terjadi di kalangan penguasa tidak hanya menimpa diri dan keluarganya, tapi menimpa bangsa secara keseluruhan. Akibatnya, rakyat menderita, bangsa terpuruk, dan kekayaan hanya berkutat pada sedikit elit penguasa saja. Maka Al Qur’an menyeru kepada mereka agar dapat memeratakan kekayaan kepada semua supaya tidak hanya dirasakan oleh kelompok elit (Q.S. Al Hasyr [59] : 7). Bermegah-megah dengan kekayaan adalah fitnah (cobaan) yang diberikan Allah kepada manusia hingga mereka lalai, kufur nikmat, hingga membawa kehancuran.

Agar kehancuran tidak terjadi pada bangsa kita, karena semakin banyaknya penguasa di negeri ini hidup dalam kemewahan, maka harus muncul ulû baqiyyah (orang-orang yang masih memiliki keutamaan) yang mampu tampil menumpas al-fasâd (kerusakan dan kejahatan) di berbagai lini, seperti korupsi, suap, manipulasi, eksploitasi, koptasi, dan kapitalisasi. Harus ada orang-orang yang hadir untuk mencegah al-munkar (kemungkaran) dan memerintahkan al-ma’rûf (kebaikan), tampil sebagai pemimpin dan tokoh yang bersih, jauh dari gaya hidup mewah, hubb al-dunyâ (cinta harta duniawi), dan rakus kekuasaan. Allah mengingatkan: “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Q.S. Hûd [11] : 116)

Kezaliman Merajalela
Akibat dari gaya hidup mewah, maka terjadi kezaliman di mana-mana. Para penguasa berlaku tiran, tindakannya hanya untuk membela kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kehancuran negeri ini akan segera terwujud bila kezaliman dikedepankan, dan keadilan disingkirkan.

Para penegak hukum yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan hukum yang berlaku karena ada campur tangan pihak penguasa atau pihak-pihak lain, maka keadilan tidak akan pernah ditegakkan. Mereka adalah orang-orang yang akan dimurkai Allah, malaikat dan kaum mukminin seluruhnya. Mereka itu adalah orang-orang yang menjual ayat Allah dengan harga yang murah. Sebuah hadits riwayat Abu Dâwud menegaskan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa memberikan pertolongan kepada orang yang melanggar hukum hingga tidak jadi mendapat hukuman, maka dia telah melanggar ketentuan Allah.

Barangsiapa bertengkar mempertahankan sesuatu yang batil sedang dia mengetahui kebatilan itu, maka dia selalu berada dalam murka Allah hingga berhenti bertengkar. Barangsiapa berbicara tentang agama seorang muslim padahal dia tidak mengetahuinya, maka dia akan ditenggelamkan ke dalam tanah liat yang menghancurkan hingga dia berhenti berbicara.” Rasulullah ditanya apa yang dimaksud dengan tanah liat yang menghancurkan itu? Rasulullah menjawab: “Ia adalah inti siksaan penduduk neraka”. Beliau kemudian menyebutkan bahwa orang-orang yang sering melakukan hal di atas adalah para hakim, para saksi, dan para penuntut, mereka adalah para pelaku hukum.

Para penguasa dengan sengaja melakukan kezaliman bekerjasama dengan hakim sebagai sebuah persekongkolan jahat dalam kezaliman yang dapat menjurus kepada al-madzâlim al-musytarakah (kezaliman terstruktur). Kezaliman yang dilakukan secara bersama-sama dalam rangka pembodohan, pemiskinan, dan penindasan terhadap hak-hak rakyat. Persekongkolan untuk merampas tanah rakyat, menggusur usaha kaum lemah, dan merampok harta negara. Allah mengutuk persekongkolan jahat itu sebagai al-ta’âwun ‘alâ al-itsm wa al-‘udwân (kerjasama dalam dosa dan permusuhan, Q.S. Al Mâidah [5] : 2), seperti kerjasama dalam tindak pembunuhan, merampas hak orang, atau menganiaya orang; membebaskan orang yang bersalah dan memenjarakan orang yang benar.

Rasulullah Saw dalam sebuah hadits bersabda: “Kekuasan itu akan kekal bersama orang kafir jika dilakukan dengan penuh keadilan, dan kekuasan itu akan hancur bersama orang yang dzalim.” Siapapun orang yang memegang kekuasaan, jika pemerintahan itu dilaksanakan dengan penuh keadilan, keterbukaan dan kejujuran, maka kekuasaan itu akan terus berjalan dengan baik. Tetapi jika kekuasaan itu dijalankan dengan penuh rekayasa, permainan dan kedzaliman, maka kekuasan itu akan hancur walaupun yang menjalankannya adalah seorang yang terpandang, atau orang yang mempunyai kharisma, dan lain sebagainya.

Hilang Rasa Malu
Hilangnya rasa malu akan menghancurkan bangsa dan negara. Bila rasa malu sudah hilang, yang tersisa adalah rasa iri, dengki, rakus dan cinta dunia, maka semua aturan agama akan dilanggar. Keadilan dicampakkan. Semua manusia dianggap rendah. Tuhanpun dilawannya. Rasa malu itu telah terkikis habis. Hadits Rasulullah Saw yang cukup terkenal menyebutkan: al-hayâ’u min al-îmân (malu itu sebagian dari iman). Rasulullah Saw menjelaskan: “Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah Swt, hendaklah menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur.” Menurut Muadz Bin Jabal r.a, sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. “Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku.”

Kita harus memiliki rasa malu. Kita hadirkan kembali rasa malu yang sudah lama hilang dalam hati kita. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, sampai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Dengan mudah menindas, memeras, kejam kepada rakyat, mengeksploitir kemiskinan untuk kekayaan pribadi, dan merampok uang rakyat. Puncaknya adalah kehancuran bangsa.

Masihkah kita memiliki rasa malu kepada Allah Swt saat kita disodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah Swt ketika makanan sudah tersaji, tetapi itu jelas-jelas hak orang lain? Adakah rasa malu, ketika para penguasa makan kenyang, sementara rakyat kelaparan? Penguasa tidur di rumah mewah, rakyat tidur tanpa rumah? Penguasa duduk di kursi mewah, rakyat duduk di kursi rusak? Penguasa naik mobil mewah, rakyat naik angkutan umum yang dekil berhimpit-himpitan? Mari menjaga rasa malu supaya bangsa ini tidak hancur. [ Majalah Tabligh – Rabiul Awwal 1433 ]

Al Qur’an Menjunjung Tinggi Perempuan

shabahussururOleh, Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
(Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta)

الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَـٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّـهُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ، التوبة : ﴿٧١

 “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At Taubah [9] : 71)

Sebagaimana laki-laki, perempuan juga memiliki tugas-tugas menegakkan agama, seperti amar ma’rûf dan nahî munkar (memerintah yang baik dan mencegah kemungkaran). Perempuan wajib menegakkan kebenaran dan keadilan, mengokohkan akhlak yang tinggi di dalam masyarakat. Perempuan berkewajiban menjaga rumah tangga, masyarakat dan negara. Seperti laki-laki, perempuan wajib melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa, dan melaksanakan ibadah haji. Oleh karenanya, perempuan berhak memiliki hartanya sendiri, mengelola, dan mengaturnya. Islam tidak merendahkan martabat perempuan, bahkan mengangkatnya setinggi-tingginya.

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak dimaksudkan untuk saling menghinakan, saling memusuhi, dan saling merendahkan. Tapi diciptakan untuk saling kenal-mengenal, bekerjasama, saling menghargai, guna membangun rumah tangga dan masyarakat berdasarkan taqwa. Keutamaan seseorang tidak diukur karena dia laki-laki atau perempuan, tapi karena tingkat ketaqwaannya (Q.S. Al Hujurât [49] : 13, juga An Nisâ’ [4] : 1).

Al Qur’an menyebutkan tentang kisah perempuan-perempuan terhormat. Bahkan ada di antara mereka yang menerima wahyu dari Allah, seperti ibu Nabi Musa yang diperintahkan Allah untuk menghanyutkan Musa di dalam peti ke dalam arus sungai Nil. Ada pula Maryam, seorang gadis suci dalam kehidupan zuhud dan penjaga Masjid Al Aqsha, yang melahirkan Nabi Isa. Dalam Al Qur’an juga disebutkan kakak perempuan Nabi Musa yang bertugas mengintai kemana adiknya hanyut di sungai Nil. Disebutkan pula dua gadis anak Nabi Syuaib yang menggembala kambing di negeri Madyan. Salah satu gadis itu menjadi istri Musa. Disebut juga di dalam Al Qur’an istri Fir’aun, Asiyah yang mengangkat Musa sebagai anak, memelihara dan membelanya hingga dewasa. Dikisahkan pula tentang seorang ratu di negeri Saba’, Ratu Balqis, yang mempunyai wibawa besar sehingga negeri-negeri lain tunduk dalam kekuasannya.

Al Qur’an juga berbicara banyak tentang perempuan; gugatan perempuan kepada suami (Q.S. Al Mujâdilah [58] : 1-6), perempuan yang turut hijrah bersama Rasulullah Saw, dan perlakuan terhadap mereka (Q.S. Al Mumtahanah [60] : 10-13), adab dalam rumah tangga (Q.S. An Nûr [24] : 27-28), kesopanan, sikap hidup, dan kesamaan (Q.S. Al Ahzâb [33] : 33-35, At Thalâq [65] : 1-4), hak-hak perempuan (Q.S. An Nisâ’ [4] : 7). Semua ayat-ayat itu menegaskan bahwa dalam Islam tidak ada perempuan yang dihinakan atau disia-siakan. Mereka memiliki peran, hak dan tanggung jawab sama penting dengan laki-laki.

Pembagian Tugas, Saling Mendukung dan Melengkapi

Walaupun perempuan itu memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, tetapi tidak harus melakukan hal-hal di luar kemampuan. Laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga tugas yang diemban pun bisa jadi berbeda. Maka antara perempuan dan laki-laki ada pembagian tugas, selalu saling mendukung dan melengkapi.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dari Ibn Abbas bahwa ada seorang perempuan diutus teman-teman perempuannya untuk menghadap Rasulullah Saw, perempuan itu mempertanyakan masalah jihad kepada beliau. Sebagaimana yang dipahami, jihad itu untuk laki-laki saja. Kalau menang dalam jihad, laki-laki itu mendapat pahala. Jika meninggal, mereka mati syahid. Sedang kaum perempuan, sebagaimana yang dipahami, hanya menjaga rumah dan anak-anak di rumah. Rasulullah menjawab, “Sampaikan kepada kawan-kawanmu sesama perempuan nanti setelah ketemu, bahwasanya taat setia kepada suami dan mengakui akan hak suami itu adalah sama nilainya dengan perjuangan laki-laki sebagai yang kamu pertanyakan itu.” Dalam riwayat lain Rasulullah berkata, “Sampaikan kepada kawan-kawanmu perempuan yang mengutusmu kemari, bahwasanya ketaatan dan mengamalkan apa yang diridhai Allah, adalah lebih mengimbangi segala kelebihan yang ada pada laki-laki.”

Buya Hamka menambahkan bahkan dalam hal kewajibanpun, karena kondisi yang berbeda, perempuan bisa jadi mendapat hak istimewa. Contohnya, kewajiban shalat. Karena dalam setiap bulan perempuan mengalami datang bulan (haid), maka mereka diberi keistimewaan untuk tidak menjalankan shalat pada saat itu. Begitu pula kewajiban puasa. Perempuan boleh tidak puasa, dengan leluasa mengganti di hari lain di luar Ramadhan, karena mengalami haid.

Oleh karenanya, yang terpenting dalam menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah adanya saling memahami, saling mendukung dan rela berkorban. Kata Buya Hamka, “Yang laki-laki sampai putih rambut di kepala, mencarikan keperluan rumah tangga. Yang perempuan habis tenaga, memelihara rumah tangga, mendukung suami, mendidik anak-anak. Keduanya sama-sama berkorban.”

Kalaulah perempuan diwajibkan taat kepada suami, maka hal itu diperintahkan sebagai imbalan jasa suami yang telah berkorban dalam perjuangan hidup. Sedemikian besar perjuangan suami, maka istri harus mentaatinya, hingga diriwayatkan dalam hadits bahwa sekiranya dibolehkan seorang sujud kepada orang lain, Rasulullah akan perintahkan perempuan (istri) untuk sujud kepada suami. Meskipun sedemikian besar keharusan seorang istri taat kepada suami, namun seorang suami juga harus memiliki sikap yang terbaik pula kepada istrinya. Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang baik di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Aku sendiri adalah baik terhadap keluargaku. Perempuan adalah orang yang mulia dan tidaklah menghinakan perempuan melainkan orang yang hina juga.” (H.R. Ibn Majah).

Penghargaan Kepada Ibu

Salah satu bentuk penghargaan Islam yang tinggi kepada perempuan adalah penghargaannya kepada sang ibu. Di dalam Al Qur’an disebutkan betapa seorang ibu itu sangat mulia. Ketaatan seorang kepada ibu didudukkan setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (Q.S. Al Isrâ’ [17] : 23-25). Kemuliaan seorang ibu itu demikian besar, karena dia telah berjasa sangat besar kepada anak-anaknya. Sang ibu bersusah payah sejak proses mengandung, melahirkan, menyusui, dan memelihara anak-anaknya (Q.S. Luqmân [31] : 14). Maka sebagai bentuk kesyukuran, sang anak wajib menghormati, memuliakan, dan berbakti kepada ibunya.

Dalam hadits-hadits Nabi, kita diberikan tuntunan bagaimana seharusnya berbakti kepada kedua orangtua, mana yang didahulukan, ayah atau ibu. Rasulullah menjawab, “ibumu” hingga tiga kali. Bahkan ketika seorang sahabat ingin ikut berjuang fi sabilillah bersama Rasulullah Saw, ditanya apakah masih mempunyai ibu. Sahabat itu menjawab, masih mempunyai ibu yang yang tua. Rasulullah menyuruhnya untuk duduk bersama ibunya, seraya mengatakan, “Duduklah di sampingnya, di sanalah terletak surga.” Menghormati, memuliakan dan berbakti kepada ibu, setingkat dengan jihad fi sabilillah. Dalam hadits-hadits yang lain dijelaskan umpamanya bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Ridha Allah itu tergantung pada ridha ibu-bapak, dan murka-Nya tergantung kepada murka keduanya.

Maka sebesar-besar dosa, setelah dosa menyekutukan Allah adalah uqûq al-wâlidain (durhaka kepada ibu-bapak). Bahkan andaikata berbeda keyakinan pun dengan ibu, kesetiaan dan ketaatan masih harus diberikan kepadanya kecuali dalam hal keyakinan (Q.S. Luqmân [31] : 15).

Kebebasan Perempuan

Ada suatu riwayat bahwa seorang gadis mengadukan dirinya kepada Rasulullah karena ayahnya menikahkannya dengan anak saudara ayahnya. Rasulullah berkata kepada gadis itu, “Terserah kepadamu. Kalau kamu tidak suka, akan aku pisahkan kalian.” Gadis itu menjawab, “Aku terima apa yang dilakukan oleh ayahku. Cuma sekarang aku datang kepadamu ya Rasulullah, supaya perempuan tahu bahwa tidaklah mesti terserah ayah saja segala urusan.”

Riwayat di atas menunjukkan bahwa perempuan mempunyai kebebasan untuk menerima atau tidak laki-laki yang akan menjadi suaminya. Itulah maka para ulama fiqih mempersilahkan perempuan sebelum menikah untuk membuat persyaratan bagi calon suami. Dia boleh membuat “ta’liq thalaq” (talak bergantung). Misalnya, dia membuat syarat, kalau saya disakiti, tidak diberi nafkah, suami tidak pulang sekian bulan, dan lain sebagainya. Bila syarat yang dibuat itu dilanggar oleh suami, maka jatuhlah talak dan dengan sendirinya dia terpisah dari laki-laki itu. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa perempuan boleh saja membuat ta’liq  bahwa suaminya tidak boleh berpoligami. (Hamka, 1996: 58)

Perempuan mempunyai kebebasan melakukan apa yang disebut khulu’. Yaitu dengan persetujuan antara suami-istri, karena kebebasan pribadi, seorang istri boleh memberi ganti rugi dengan jumlah tertentu kepada suami, asal suami mau menceraikannya.

Setelah bersuami, seorang istri masih mempunyai hak kepemilikan harta, hak atas kehormatan keluarga, dan hak-hak yang lain. Meskipun seorang perempuan sudah bersuami, tidak kemudian hartanya menjadi milik suami. Bahkan namanya pun masih dinisbatkan kepada ayahnya, tidak dinisbatkan kepada suami. Kepribadian seorang perempuan tidak hilang, lantaran bersuami. Perempuan itu tetap berhak memperteguh kepribadiannya.

Buya Hamka mengutip fatwa Ibn Qayyim al-Jauziyyah bahwa seorang anak gadis yang telah baligh berakal dan cerdas, ayahnya tidak boleh berbuat sesuka hati terhadap harta yang dimiliki kecuali dia suka. Ayah tidak boleh memaksa anaknya untuk membelanjakan hartanya di luar persetujuannya. Padahal mengeluarkan harta anak gadisnya tanpa rela itu lebih mudah dari menikahkan anak perempuan dengan laki-laki yang tidak disukai. Mengeluarkan harta anak perempuannya tanpa rela saja tidak boleh, apalagi mengawinkannya dengan orang yang tidak disukai. (Hamka, 1996: 61).

Perempuan juga berhak mendapatkan dan menentukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang disukai. Perempuan berhak menuntut ilmu yang setinggi-tingginya. Rasulullah sangat menganjurkan agar kaum perempuan menguasai ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban manusia. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu itu merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.”

Di balik kejayaan suatu bangsa, terdapat keteguhan jiwa dan perjuangan kaum perempuan. Maka ada kata-kata hikmah yang menyebutkan bahwa perempuan itu adalah tiang negara. Bila perempuannya baik, baiklah negara, bila perempuan bobrok, bobrok pula negara.

Maka upaya menjunjung harkat kaum perempuan, memberikan pencerahan dan pemberdayakan mereka, tidak lain adalah upaya meninggikan agama dan memajukan bangsa. Sedangkan upaya merendahkan, menghinakan, bahkan menghapuskan peran perempuan, adalah upaya menghancurkan agama dan bangsa. Wallahu a’lam. [Majalah Tabligh edisi ed.8/IX]

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Dr. Hj. Isnawati Rais, MA.

 “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Q.S. Al Imran [3] : 161)

 “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 188)

  Read More »

RAMADHAN DAN KEMERDEKAAN

Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
 

‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan al-fath (pembukaan), dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.  Q.S. al-Nashr/110: 1-3.

 

Bagi umat Islam di Indonesia, Ramadhan tahun ini menjadi istimewa. Hal itu karena peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, 17 Agustus 2012 terjadi di bulan Ramadhan 1433 H, sebagaimana kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 itu diproklamirkan di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan rahmah (kasih sayang). Allah memberikan kasih sayangnya yang tak terhingga, termasuk dalam konteks kebangsaan adalah rahmah kemerdekaan. Betapa kasih sayang Allah itu diberikan kepada bangsa Indonesia, yang dulu tertindas, terjajah, berada dalam dominasi pihak asing, lantas terbebaskan dari belenggu penjajahan itu. Sebuah kemerdekaan yang harus disyukuri.

Berkat perjuang pada pendahulu, bangsa Indonesia merdeka dari para penjajah. Kobaran api jihad, sebuah cita-cita membuahkan hasil. Gemuruh takbir, Allâhu Akbar, mengusir habis orang-orang yang mengeksploitir potensi Indonesia. Dalam puasa Ramadhan, ada semangat kobaran jihad itu. Kemauan keras menahan lapar adalah jihad. Kemauan keras menahan haus adalah jihad. Kemauan menahan hawa nafsu adalah jihad. Lebih dari itu, kerelaan membagi yang dimiliki, baik makanan, minuman, harta, ilmu, dan kekuasaan, untuk kepentingan orang banyak, adalah jihad. Bila shiyâm (puasa) diikuti dengan jihad, maka yang tumbuh adalah rahmah (kasih sayang) yang disebarkan kepada sesama manusia. Rahmat yang meluas akan mewujudkan kedamaian, ketenangan, keamanan, ketentraman, dan kesejahteraan. Bila itu yang terjadi, maka sesungguhnya kemerdekaan hakiki telah kita dapatkan.

Pembebasan dari Belenggu Otoritarianisme

Surat al-Nashr turun setelah Rasulullah Saw. dan para shahabat berhasil membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy. Lebih kurang sepuluh tahun Rasulullah dan para shahabat setianya meninggalkan kota tersebut berhijrah ke Madinah. Pengaruh Rasulullah di Madinah semakin kuat sehingga ketika datang membebaskan kota Makkah, tidak ada perlawanan berarti dari penguasa Quraisy. Kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Kemenangan kaum muslimin adalah kemenangan semua penduduk Makkah dan Madinah. Pembebasan kota Makkah adalah kemerdekaan dari segenap penindasan, dominasi, dan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan itu adalah pertolongan Allah untuk umat manusia agar mereka bersyukur kepada-Nya.

Yang menarik dalam surat al-Nashr itu adalah bahwa untuk menunjuk kepada makna kemerdekaan tidak digunakan kata al-istiqlâl, tidak juga al-tahrîr untuk makna pembebasan, atau al-ghalabah untuk makna kemenangan, tapi kata yang digunakan adalah al-fath (pembukaan, dari kata fataha- yaftahu, membuka). Hal itu karena memang kedatangan Rasulullah ke kota Makkah itu hanya untuk membuka sesuatu yang selama ini tertutup. Rasulullah datang tidak untuk menguasai, menjajah atau mengeksploitasi. Rasulullah datang untuk membuka tabir kebodohan dan kemiskinan, membuka buhul keyakinan, kemusyrikan dan tradisi, adat istiadat yang mengikat, membuka dominasi kekuasaan yang tiran, membuka kesewenang-wenangan yang membelenggu, dan mengurai problema kehidupan masyarakat yang terus menghimpit. Itulah maka Islam bukan agama yang menindas, memaksa, mendominasi, menjajah dan mengeksploitasi. Islam adalah agama yang membuka pikiran dan hati agar menerima kebenaran sejati. Islam menyuruh umatnya agar bersikap dinamis, terbuka dan menerima perubahan. Islam menolak sikap statis, eksklusif, tertutup, dan jumud. Kemerdekaan dalam Islam dimaknai sebagai kemampuan membuka diri dan membebaskannya dari otoritarianisme dan sikap-sikap statis, eksklusif, tertutup, dan jumud itu.

Kemerdekaan Berbasis Ketundukan
Kemerdekaan dalam Islam selalu berdasar pada ketundukan kepada Allah, karena sesungguhnya kemerdekaan yang didapat itu sesungguhnya adalah pertolongan Allah. Maka tidak sepatutnya kemerdekaan itu dikuti dengan kesombongan. Tidak selayaknya kebebabasan dan kemenangan yang kita raih itu menjadikan kita sombong dan congkak. Tanpa pertolongan Allah, kota Makkah tidak akan terbebaskan. Tanpa pertolongan dari Allah, Indonesia tidak akan merdeka. Tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan bebas merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterpurukan. Maka bila kini kita telah merdeka, pikiran telah tercerahkan sehingga menjadi orang-orang yang tercerahkan, terbebaskan dari kemiskinan yang melilit, maka tidak sepatutnya kita menyombongkan diri merasa bahwa kemenangan itu semata karena kemampuan kita.

Kemerdekaan itu harus berbasis pada ketundukan yang disimbolkan dengan kedekatan kita kepada masjid. Itulah maka persis setelah fath Makkah (pembebabasan kota Mekkah), Rasulullah memaklumkan kepada masyarakat bahwa jaminan keamanan didapat ketika masuk Masjid Haram. “Barangsiapa yang masuk Masjid Haram, maka akan mendapatkan keamanan” (Q.S. Ali Imran/3: 97). Masjid menjadi simbol bagi terciptanya keamanan, kesejukan, kedamaian. Kondisi seperti itu adalah cita-cita yang diharapkan dalam meraih sebuah kemerdekaan.

Di dalam masjid (kata masjid itu sendiri berarti tempat sujud, tunduk menyerahkan diri), kita sujud, tunduk, mengkuduskan, dan merendahkan diri kepada Allah, yang dalam praktik ibadah dilambangkan dengan menempelkan wajah, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki ke atas permukaan bumi. Penamaan tempat kegiatan pengabdian kepada Allah dengan masjid (tempat sujud), pasti mempunyai misi tertentu yang lebih dari sekedar menempelkan wajah di atas bumi. Tempat itu tidak dinamai marka’ (tempat ruku’), meskipun dalam shalat seseorang juga melakukan ruku’, atau mushallâ (tempat shalat) meskipun kenyataannya tempat itu digunakan untuk melakukan shalat lima waktu. Tapi tempat itu dinamakan masjid (tempat sujud). Maka dapat dipahami bahwa masjid dimaksudkan sebagai tempat berbagai aktivitas yang secara keseluruhan mengarah dan dalam rangka pengabdian (ibâdah) kepada Allah, dalam arti seluas-luasnya, dengan penuh ketundukan, kekudusan, kepasrahan, kepatuhan, dan ketaatan kepada-Nya. (Q.S. al-Nur/24: 36-38). Oleh karena itu mestinya masjid tidak dimarjinalkan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah dalam arti sempit, seperti misalnya hanya sebagai tempat shalat dan khutbah.

Dalam pengertian khusus, masjid yang dimaksudkan adalah bangunan khusus yang di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan yang meliputi kegiatan yang berhubungan dengan Allah (habl min Allâh) dan yang berhubungan dengan manusia (habl min al-nâs) yang secara keseluruhan dilakukan dalam rangka tunduk dan patuh dalam pengabdian kepada Allah. Masjid menjadi titik pusat bagi pengaturan tata ruang lingkungan kehidupan umat Islam, dari titik pusat itu kemudian diikuti dengan unit-unit spasial lain, seperti sarana pendidikan, kesehatan, perbankan, pasar, perkantoran, perumahan dan lain sebagainya. Lingkungan kehidupan yang berpusat pada masjid itu, menurut al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam, bersumber pada paradigma tauhid (tauhidic paradigm) tentang kesatuan kehidupan yang berasal dari Yang Esa (Allah). Sebagaimana yang tergambar dalam tauhidic paradigm, maka seluruh kehidupan bersumber dari Yang Esa dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya dalam tauhidic paradigm, tidak ada pemisahan antara yang sakral dan yang profan, dimana dimensi ruhani dan materi terintegrasi menjadi satu, dan pola kehidupan duniawi setiap muslim adalah pancaran dari cahaya keimanannya. Maka kemerdekaan tidak hanya dimaknai kebebasan secara materi tapi harus dimaknai sebagai kemerdekaan jasmani dan ruhani.

Kemerdekaan tanpa nilai ketundukan akan menghasilkan pembangunan sekularistik, materialistik, dan hedonistik. Kemerdekaan akhirnya hanya dinilai sejauh mana secara duniawi, materi, sebuah kesenangan itu dapat dicapai. Kemerdekaan akan menjadi gersang dan tidak memiliki jiwa dan jati diri yang kokoh. Pembangunan menjadi labil, mudah tumbang, dan ambruk. Sejarah telah membuktikan, betapa sebuah bangsa yang kuat, kemajuan pada puncak keemasannya, akhirnya hancur lebur karena jiwa ketundukan sudah mati.

Kemerdekaan Mewujudkan Rahmah dan Kedamaian
Sebagaimana suasana dalam masjid yang penuh aman, damai, tunduk pasrah kepada Allah. Maka demikian pula gambaran sebuah kemerdekaan yang diraih. Kemerdekaan itu seharusnya menimbulkan suasana rahmah (kasih sayang), rasa aman dan damai. Kemerdekaan tidak menimbulkan kekacauan. Kemerdekaan tidak mendatangkan kerusakan. Bila di dalam masjid, seseorang melakukan shalat, berzikir, doa, membaca al-Quran, mengadakan kajian keislaman, dalam pengabdian (al-ibâdah) kepada Allah, kemudian mendapatkan kenikmatan iman (halâwah al-îmân), sehingga hatinya tenteram, pikirannya jernih, maka itulah sejatinya kemerdekaan. Hati dan pikiran merdeka dari kotoran-kotoran yang membelenggu. Itulah maka komitmen seorang mukmin sejak memulai sebuah pekerjaan adalah membebaskan niat hanya untuk Allah, bismillâhi al-Rahmân al-Rahîm (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Merdeka dari tujuan-tujuan kotor: “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Q.S. al-An’âm/6: 162.

Shalat yang didirikan di masjid membawa pada suasana ketentraman dan kedamaian batin. Perintah menegakkan shalat tidak sekedar menjalaninya saja. Tapi menegakkannya dengan sempurna karena kesadaran akan tujuannya, dengan membawa berbagai dampak nyata. Dampak shalat dan hasil tujuannya itu antara lain, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang kotor dan keji” (Q.S. al-Ankabût/29: 45). Juga: “Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya” (QS. al-Ma’arij/70:19-23).

Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang menjalankan shalat hanya dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan tertentu namun melupakan makna ibadat itu dan hikmah rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia berupa pembersihan dan pensucian kepribadian, pendidikan kejiwaan dan peningkatan budi. Allah berfirman: “Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lalai akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan.” (Q.S. al-Mâ’ûn/107: 4-7).

Demikian pula ibadah puasa di bulan Ramadhan memberikan ketenangan dan kedamaian. Betapa orang yang berpuasa mampu bertahan dari godaan-godaan nafsu makan, minum dan seks. Jiwanya sejuk dan damai, tidak digerogoti oleh keinginan-keinginan yang tak terhingga. Orang yang berpuasa membagikan makanan, minuman, harta benda dan kekayaannya untuk orang lain. Orang yang berpuasa menebar rasa kasih sayang kepada sesama.

Kemerdekaan Mewujudkan Solidaritas

Nilai spiritualitas yang tergambar dalam shalat seorang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S. al-Ankabût/29: 45 di atas, menunjukkan bahwa shalat itu memiliki pengaruh sosial. Oleh karena itu shalat seorang muslim harus mempunyai dampak sosial. Shalat tidak hanya berdampak pada pribadi orang yang melaksanakan, tapi memiliki pengaruh bagi kebaikan masyarakat. Disebutkan dalam al-Quran:
“Setiap pribadi bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Kecuali golongan kanan. Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya, tentang nasib orang-orang yang berdosa: “Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?”. Sahut mereka, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat. Dan tidak pula kami pernah memberi makan orang-orang melarat. Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena. Dan kami dustakan adanya hari pembalasan. Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati).” (QS. al-Muddatstsir/74:38-47).

Hancurnya bangsa ini adalah karena sikap egois. Solidaritas telah menipis bahkan nyaris lenyap. Hubungan antara sesama anak bangsa selalu saja karena perhitungan untung rugi, bukan karena kemaslahatan. Yang jatuh tidak diangkat, malah ditendang. Yang lemah tidak diberdayakan malah diinjak. Yang bodoh tidak diajari, malah dimaki-maki. Yang kelaparan tidak diberi makan, malah dieksploitasi. Yang miskin dan lemah dijadikan obyek menumpuk kekayaan pribadi.

Kita telah merdeka dari penjajahan namun belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan kesewenang-wenangan. Kita masih harus banyak berjuang, merebut kemerdekaan yang hakiki. Kita perlu menyingkirkan sikap egois sehingga dengan senang hati berbagi, memberi dan menyantuni. Bakhil, pelit, dan kikir bukan solusi sukses hidup, tapi justru akan membawa petaka dan sengsara. Allah pasti melipatgandakan pahala bagi siapa yang mau berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Cintanya kepada orang lain menyebabkan hatinya kaya dan terbuka untuk memberikan infaq sedekahnya kepada orang lain. Hati yang terbuka itu adalah hati yang penuh cahaya terang yang terus menyinari dirinya dalam kehidupan di dunia dan di akherat.

Bulan Ramadhan ini, mestinya kita syukuri kemerdekaan yang kita raih dengan kembali kepada semangat masjid, yaitu semangat sujud, tunduk patuh kepada Allah. Kita ambil semangat puasa yang mengajarkan untuk menebarkan kasih sayang dan kedamaian lahir dan batin, serta mengedepankan tanggung jawab sosial dengan banyak membagi kepada sesama. Kemerdekaan menghancurkan sikap egoisme. Kemerdekaan menebarkan rahmah dan kedamaian, sejalan dengan Islam sebagai agama rahmah (kasih sayang) dan salâm (damai). #[Majalah Tabligh edisi Ramadhan – Syawal 1433 H]

 

DAKWAH DALAM SEMANGAT PERSAUDARAAN

Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al Hujurat [49] : 10)

Sering kali karena kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan, seseorang melupakan prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu ukhuwah (persaudaraan). Dia membuat pembenaran untuk memenangkan kepentingannya melalui berbagai argumen. Argumentasi logika (al-‘aqlî) dan agama (al-naqlî) digunakan untuk merebut simpati, meraup dukungan, dan memenangi perang perebutan kue kekuasaan. Nilai ukhuwah tercabik-cabik, dikalahkan oleh naluri egoisme yang menguasai jiwa. Kehancuran demi kehancuran terjadi, karena yang memelopori pertikaian dan permusuhan adalah para pemimpin dan tokoh panutan mereka.

Mengedepankan faktor ukhuwah menjadi sangat penting dalam mewujudkan kedamaian dan keamanan warga bangsa. Islam mengajarkan perdamaian dan kesejukan dalam segala hal, bahkan termasuk dalam hal dakwah menyebarkan ajaran agama itu sendiri. Islam membenci kekerasan dan permusuhan. Islam mengedepankan kesejukan dalam berbagai hal.

Kita semua bersaudara, kita dilahirkan dari ayah dan ibu yang sama, Adam dan Hawa, tapi kenapa akhirnya saling bermusuhan. Islam mengajarkan kita untuk mencari persamaan-persamaan, bukan perbedaan-perbedaan. Bila persamaan yang kita bangun, maka kekuatan dan kemakmuran yang akan diraih, tapi bila perbedaan yang ditonjolkan, maka konflik dan permusuhan yang akan terjadi.

Ukhuwah dalam Al Qur’an
Kata akh (saudara) dalam Al Qur’an, setidaknya ditemukan sebanyak 52 kali. Kata itu dapat berarti: 1). Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu (Q.S. An Nisa [4] : 23); 2). Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al Qur’an, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku,” (Q.S. Thaha [20] : 29-30). Kata itu juga berarti saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya: “Dan kepada suku ‘Ad, (kami utus) saudara mereka Hud,” (Q.S. Al A’raf [7] : 65). Seperti telah diketahui kaum ‘Ad membangkang terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud a.s., sehingga Allah Swt memusnahkan mereka (baca antara lain: Q.S. Al Haqqah [69] : 6-7).

Kata akh (saudara) dalam Al Qur’an juga berarti saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia berkata kepadaku, ‘Serahkan kambingmu itu kepadaku’; dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan,” (Q.S. Shad [38] : 23). Dalam sebuah hadits, Nabi Saw bersabda: “Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun teraniaya.” Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang yang menganiaya, beliau menjawab, “Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. Yang demikian itulah pembelaan baginya,” (HR Bukhari melalui Anas bin Malik).

Kata akh (saudara), juga mengandung arti persaudaraan seagama. Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.” Ada pula yang mengandung arti saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniah). Al Qur’an menyatakan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah dari seorang lelaki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa) (Q.S. Al Hujurat [49] : 13). Ini berarti bahwa semua manusia adalah seketurunan dan dengan demikian bersaudara. Juga berarti saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah. Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa: “Dan tidaklah (jenis binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya) kecuali umat-umat juga seperti kamu,” (Q.S. Al An’am [6] : 38).

Dr. M. Quraish Syihab, dalam Wawasan Al Qur’an, menyebutkan bahwa Al Qur’an menyebut setidaknya ada empat macam persaudaraan: 1). Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah; 2). Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu; 3). Ukhuwah wathaniyyah wa al-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan; 4). Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim.

Dakwah Yang Lembut
Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang dilakukan dengan sejuk, santun, dan menebarkan kedamaian, yaitu dakwah yang dilakukan tanpa mengandung provokasi, dan kebencian. Itulah dakwah yang dibangun atas semangat ukhuwah (persaudaraan). Da’wah bukanlah di’ayah, dakwah bukanlah kampanye. Dakwah adalah serangkaian kegiatan yang menyebabkan orang lain tersentuh melalui kesadarannya untuk dapat melaksanakan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dasar utama dalam dakwah adalah keteladanan. Ibn Khaldun menjelaskan bahwa dasar terpenting bagi dakwah adalah contoh dan keteladanan. Penguasa memberi contoh dan teladan kepada yang dikuasai. Yang lemah mengambil contoh dari yang kuat. Yang di belakang mengikut orang yang di depannya. Maka orang-orang yang berkuasa itu harus memberikan teladan yang baik kepada rakyatnya, tidak sekedar pandai berbicara.

Keteladanan itu adalah akhlaq dan budi pekerti yang dilakukan penguasa untuk rakyatnya, guru terhadap muridnya, maupun orang kaya kepada orang miskin. Maka rakyat meneladani penguasa karena keadilan, keramahan, dan kasih sayangnya. Murid meneladani guru karena ilmu, keshalehan, dan bimbingannya. Dan orang miskin meneladani orang kaya karena kebersahajaan, kedermawanan, dan penghargaannya kepada orang yang lebih rendah. Oleh karena itu, dakwah adalah upaya untuk mengumpulkan berbagai kelompok masyarakat itu, bukan untuk memecah belah, menjadikan mereka saling berdekatan bukan saling menjauhi, mengajak, bukan mengusir. Dakwah itu membangun dan mempererat ukhuwah (persaudaraan).

Dakwah yang lembut dan luwes itu dicontohkan umpamanya oleh Buya Hamka. Suatu ketika ada beberapa perempuan terpelajar yang masih terpengaruh mode Barat ingin belajar Islam kepada beliau di Masjid Agung Al-Azhar. Mereka datang dengan pakaian minim dan make up yang berlebihan. Buya tidak berkeberatan mengajar mereka yang berpakaian belum sesuai dengan akhlak Islam itu. Janggal memang seorang ulama besar mengajar perempuan dengan berpakaian terbuka, setengah tutup aurat. Tapi beliau lakukan dengan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam. Lama kelamaan, mereka datang ke pengajian itu dengan menutup aurat, berbusana muslimah dengan indah dan rapi. Bahkan pada awal-awal berdiri pendidikan formal Al-Azhar, tidak diwajibkan bagi siswa siswinya untuk berbusana muslimah. Bertahap namun pasti, dakwah itu membawa hasil. (Rusydi, 1982: 156-157).
Buya mengizinkan Aula Masjid Agung Al-Azhar (yang kini bernama Aula Buya Hamka) dijadikan tempat mode-show (peragaan busana) pakaian haji oleh ibu-ibu Pertiwi DKI. Tentang peragaan busana seperti itu beliau menjelaskan bahwa memang pakaian yang mereka pakai itu indah, cantik, menarik hati, dan terutama sopan. Yang diperagakan pakaian sehari-hari, pakaian pergi shalat, pakaian yang pantas buat perempuan yang sudah menjadi Hajjah. Peragaan busana seperti itu, kalau disadari, tidak lepas dari lingkaran dakwah. Bahkan mungkin lebih positif hasilnya dari seorang muballigh yang di dalam suatu tabligh akbar dengan agitasi yang gagah perkasa, mencela, menyindir, dan mengharamkan pakaian-pakaian wanita modern zaman sekarang. Sebab dengan mencela, memaki, hati orang jadi sakit. (Hamka, 1984: 32). Bisa jadi setelah mendengarkan ceramah seperti itu, mereka justru akan mempertontonkan model pakaian yang lebih tidak Islami, karena meresa kesal dan sakit hati.

Buya Hamka menceriterakan tentang dakwah yang luwes itu seperti yang dilakukan oleh Gerakan Muhammadiyah / Aisyiyah antara tahun 1927 – 1930. Pada saat itu, kaum perempuan Indonesia dari berbagai suku, memakai pakaian yang berbeda-beda, yang terkadang bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak menutup aurat, sangat tipis (transparan) sehingga menampakkan bagian-bagian tubuh terlarang. Gerakan Aisyiyah tidak mencela mereka sebagai haram, berdosa, masuk neraka dan lain-lain. Aisyiyah membuat mode pakaian baru yang islami, cantik, manis, dan menarik. Para anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia menggunakan mode pakaian itu. Akhirnya dakwah itu berhasil. Mode pakaian itu ditiru oleh banyak perempuan Indonesia, termasuk pemuka wanita Islam seperti Rasuna Said dan Rahmah El Yunusiyah. (Hamka, 1984: 32-33)

Islam harus dihadirkan dalam bentuk keramahan, luwes, memahami lingkungan dan budaya setempat. Islam harus dihadirkan dalam bahasa yang aktual dan difahami umat, bukan konsep normatif yang rigid (kaku) dan mengawang di langit. Islam dihadirkan dalam kehidupan masyarakat yang hidup dinamis. Dakwah yang hidup akan menjadikan Islam dan kaum muslimin terus hidup, maju dan berkembang. Tapi bila dakwah itu mati, Islam dan kaum muslimin akan terpuruk, mundur, statis, akhirnya mati.

Karena Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam), sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. Al Anbiya’ [21] : 107, Al An’am [6] : 54, Al A’raf [7] : 158, Saba’ [34] : 28, maka dakwah Islam harus dihadirkan dalam rangka menjelaskan kebenaran kepada seluruh alam. Islam bukan untuk bangsa, suku, atau golongan tertentu. Islam hadir untuk seluruh dunia. Islam hadir bukan untuk membawa bencana, petaka, dan kehancuran, tapi datang untuk menebar rahmah, kasih sayang, dan kedamaian. Maka dakwah yang hidup yang mampu menjangkau seluruh dunia adalah dakwah yang dilakukan dengan pemahaman yang luas, hati lapang, dan memandang manusia sebagai saudara. Rasa persaudaraan itu harus ditanamkan sedemikian rupa, sehingga orang yang baru mengenal Islam tertarik menerimanya.

Akhirnya, marilah kita bangkit berdakwah menegakkan panji-panji Islam. Negeri ini tidak boleh kosong dari gerakan dakwah. Kekosongan sesaat akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dari belakang. Jangan pernah lengah dan lalai. Jangan biarkan Islam mati karena kegiatan dakwah mati. Kita kembangkan dakwah yang hidup. Dakwah yang tumbuh dan berkembang. Dakwah yang sejuk dan damai. Dakwah yang dikembangkan dalam semangat ukhuwah, persaudaraan. [ ]

Timber by EMSIEN 3 Ltd BG