Breaking News

Khutbah

Revolusi Menuju Taqwa

H. Agus Tri Sundani

Sekretaris PWM DKI Jakarta


 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّـهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 185)

 

 

Hadirin jamaah Jum’at yang terhormat,

Alhamdulillah, kita diberi kesempatan oleh Allah Swt berjumpa kembali dengan Ramadhan, sebagaimana dulu Rasulullah Saw selalu bergembira dan bersiap diri menyambut bulan penuh berkah ini, menghidupkan malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dalam beramal manakala Ramadhan sudah tiba. Begitu pula seharusnya yang kita lakukan. Kedatangan “sang tamu istimewa” ini hendaknya kita sambut sebaik-baiknya. Kita harus mempersiapkan diri agar bisa memperoleh berkah melimpah selama bulan tersebut.

 

Hamba Allah yang mulia,

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, yang wajib dikerjakan oleh setiap orang Mukmin dan Mukminah akil baligh yang mempunyai kemampuan fisik untuk melaksanakannya. Puasa dalam ajaran Islam mempunyai tujuan yang tinggi dan menyimbolkan makna yang dalam. Satu bulan lamanya kaum Muslimin menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari, bukan karena kekurangan makanan dan minuman, melainkan lantaran memenuhi perintah Illahi dan menyatakan kebaktian kepada-Nya.

Dengan ibadah puasa itulah segenap kaum Muslimin menjalani proses pembinaan dan pendidikan, di mana mereka melakukan introspeksi diri, melatih disiplin, meningkatkan daya tahan, memperkuat semangat, mempertebal iman, memperbanyak amal dan berlatih mengendalikan diri dengan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai puasa dalam pergaulan hidup di masyarakat.

 

Hadirin yang terhormat,

Puasa dalam ajaran Islam merupakan rukun agama Islam yang keempat dan menempati kedudukan yang istimewa. Puasa bukan suatu hukuman terhadap manusia, melainkan merupakan suatu pembentukan sikap disiplin dan kemampuan mengendalikan diri. Puasa menguatkan kemauan dan membebaskan manusia dari cengkraman nafsu, mempertinggi kesadaran moral, mempertajam kepekaan nurani dan memurnikan spiritualitas melalui pengaturan dan pengendalian keinginan. Dengan demikian, puasa merupakan jihad atau perjuangan untuk mencapai keseimbangan fisik, moral dan spiritual.

Perlu dicermati bahwa puasa bukan semata-mata melaksanakan aktifitas fisik berupa menahan lapar, dahaga, dan hasrat seksual belaka. Di balik itu semua tersimbolkan suatu makna yang lebih dalam. Intisari filosofi puasa adalah kemampuan mengendalikan diri dari segala perbuatan tercela dan menunda suatu kenikmatan sementara dalam rangka mencapai tujuan yang lebih besar. Puasa yang dijalankan secara mekanistik dan dengan sekedar menjalankan kegiatan fisik tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual (bagi suami istri) di siang hari serta tidak dapat mewujudkan filosofi puasa dalam kehidupan keseharian adalah puasa yang tidak bermakna dan di sisi Allah merupakan hal yang sia-sia. Dalam sebuah Hadits Nabi Saw mengingatkan:

 

عـَنْ أَبـِي هـريـرة رضي الله عنه, قـال رسـول الله صلى الله عـلـيـه وسـلم ربّ صـائم لـيـس لـه مـن صـيـامـه إ لاّ الجـوع وربّ قـائـم لـيـس لـه مـن قـيـامـه إلاّ الـسـّهـر

“Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda: Betapa banyaknya orang berpuasa, namun perolehannya dari puasa itu hanyalah lapar dan dahaga belaka, dan berapa banyaknya orang yang melakukan qiyamul-lail, namun yang ia peroleh dari qiyamul-lail tersebut hanyalah kelelahan tidak tidur belaka.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

Hadirin yang mulia,

Dalam Hadits lain juga dinyatakan bahwa Allah tidak perlu kepada puasa yang sekedar melakukan aktifitas jasmani tanpa puasa itu dapat mempengaruhi tingkah laku ke arah yang lebih baik, seperti meninggalkan sifat suka berdusta dan lain-lain. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak memandang perlu ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhari, Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.)

Dari Hadits tersebut dapatlah kita fahami bahwa puasa yang nilai-nilainya tidak terjelmakan dalam tingkah laku adalah puasa yang sia-sia di sisi Allah. Puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang didasarkan kepada suatu komitmen otentik untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat dan sekaligus terefleksikan nilai-nilainya dalam tingkah laku nyata.

Selain dari perlunya meresapi nilai-nilai dan makna yang disimbolkan puasa, juga sama pentingnya untuk memperhatikan dan menepati tuntunan-tuntunan syar’i mengenai pelaksanaannya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, pentingnya kita pelajari dan baca kembali kitab-kitab yang berkaitan dengan fiqh syiam atau tuntunan puasa menurut Rasulullah Saw, agar kita dapat menjalankan ibadah puasa tahun ini dengan baik dan sempurna sehingga tercapai derajat taqwa.

Akhirnya, semoga kita semua selalu dirahmati, diberkahi serta diberi panjang umur oleh Allah Swt sehingga kita dapat berkesempatan untuk melakukan revolusi menuju taqwa. Wallahu ‘alam. [ ]

Induk Segala Kejahatan

Agus TrisundaniAgus Tri Sundani

Koordinator Divisi Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Sekretaris PWM DKI Jakarta

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berfikir.” (Al Baqarah : 219) 

Hadirin hamba Allah yang mulia,

Suatu hari ketika turun ayat 219 surat Al Baqarah yang kami bacakan di muqadimah tadi, sahabat Umar bin Khatab r.a. berkata, “Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan.” Maka kemudian Allah turunkan surat An Nisa ayat 43:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk.” 

Hadirin yang terhormat,

Dengan turunnya surat An Nisa ayat 43 tersebut, Rasulullah Saw langsung memerintahkan kepada mu’adzin (pengumandang adzan) agar setiap kali hendak shalat menyerukan, “Orang yang mabuk tidak boleh mendekati shalat.” Namun, di sisi lain Umar bin Khatab r.a., merasa gelisah dan belum jelas, sehingga beliau berdo’a lagi sebagaimana do’a yang pertama, hingga kemudian akhirnya turunlah surat Al Maidah ayat 90-91 yang menegaskan tentang keharaman khamr (minuman keras) dan Allah menyetarakannya dengan judi dan penyembahan berhala:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minuman) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).”

Dan ketika ayat ini dibacakan Rasulullah saw kepada Umar bin Khatab r.a. berkata, “Kami akan berhenti, kami akan berhenti.” ( HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i). Bahkan, sahabat Umar juga mengeluarkan pernyataan, “Khamr adalah semua yang memabukkan dan menutupi akal.”

Hadirin yang terhormat,

Allah mengharamkan khamr dan judi, karena di dalamnya terkandung bahaya yang fatal, kerusakan yang banyak dan dosa yang besar yang berbuntut kehinaan dan kemungkaran, baik terhadap fisik, akal maupun harta. Di antara bahaya khamr adalah menghilangkan fungsi akal, hingga membuat peminumnya seperti orang gila, alat pencernaan makanan melemah, mengakibatkan infeksi lambung dan usus, perenggang jantung, menghambat peredaran darah dan tidak jarang dapat menghentikan kerja jantung sehingga peminumnya bisa mati mendadak.

Untuk membuktikan keburukan khamr ini, maka cukup dengan sebutan sebagai “Induk segala kejahatan” sebagaimana yang diriwayatkan  An-Nasa’I, dari Utsman bin Affan r.a., bahwa dia berkata, “Jauhilah khamr (minuman keras), karena khamr itu merupakan induk segala keburukan dan induk dari dosa-dosa yang keji, sesungguhnya dahulu ada seorang abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disenangi seorang pelacur. Maka pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, ‘kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.’ Maka ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik, bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang sambil membawa secawan khamr dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamr barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.’ Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’ Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, ‘zina saya tidak mau, membunuh juga tidak.’ Lalu ia memilih untuk meminum khamr seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Karena itu jauhilah khamr (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamr dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya.

Begitu pesan Usman bin Afan r.a. Yakni seorang jika telah mabuk, maka yang sering keluar dari lidahnya adalah kata-kata kufur, lalu menjadi kebiasaan sehingga dibawa mati dalam kalimat kufur itu, sehingga menyebabkan ia kekal di neraka.

Hamba Allah yang mulia,

Rasulullah Saw merasa tidak cukup dengan mengharamkan minum khamr atau miras, sedikit atau pun banyak, bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun dengan orang non muslim. Oleh karena itu, tidak halal hukumnya seorang muslim memproduksi miras, atau membuka warung miras, atau bekerja di tempat penjualan miras.

Dalam hal ini Rasulullah Saw pernah melaknat sepuluh golongan sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ

 

“Rasulullah Saw melaknat tentang miras (khamr), sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta diantarinya, (6) yang menuangkanya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.”

 Bahkan saudaraku yang terhormat, ketika ayat 90-91 surat Al Maidah turun Rasulullah Saw kemudian bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ الْخَمْرَ فَمَنْ أَدْرَكَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ وَعِنْدَهُ مِنْهَا شَيْءٌ فَلَا يَشْرَبْ وَلَا يَبِعْ

 Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr (miras), maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai khamr walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (H.R. Muslim)

 Hadirin yang terhormat,

Setelah mendengar sabda Nabi Saw tersebut, para shahabat kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan khamr di jalan-jalan Madinah lantas dituangkan ke tanah. Bahkan, untuk membendung jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram Rasulullah Saw juga melarang seorang muslim menjual anggur kepada orang yang sudah diketahui, bahwa anggur itu akan dibuat khamr. Sebagaimana sabdanya dalam hadits riwayat Thabrani:

Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada tukang membuat khamr, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.”

Selain daripada itu, Rasulullah Saw juga melarang duduk-duduk bersama di majelis yang ada minum khamr. Sebagaimana hadits riwayat Ahmad dari Umar bin Khatab r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan khamr.”

Dari hadits tersebut dapatlah kita fahami bahwa begitu ketat Rasulullah Saw mencegah umat Islam agar tidak terjerumus untuk mengonsumsi khamr atau miras, dan setiap muslim diperintahkan untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.

Hadirin jamaah Jum’at yang terhormat,

Dari keterangan dan hadits serta kisah yang kami sampaikan, jelaslah bagi kita bahwa miras atau khamr adalah benar-benar induk dari kejahatan dan juga sumber dari kerusakan moral. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhi sejauh-jauhnya dan menjaga keluarga dan masyarakat dari minum khamr atau miras, dan apabila ada yang membolehkannya khamr beredar dengan bebas siapun orangnya, kita wajib mencegah dan menentangnya. Akhirnya, kita berdo’a semoga Allah melindungi keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia dari bahaya khamr dan sejenisnya. Amin yaa rabbal ‘alamin. [Majalah Tabligh – Edisi ]

Berbakti Kepada Orangtua

birul-walidainإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian dibenarkan?” Jawab Rasulullah Saw, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orangtuamu.” (H.R. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah)

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak orangtua atas anaknya. Bukan saja saat sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orangtuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu, hak tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orangtua (birrul walidain) menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah Swt dengan mengesakan-Nya. Allah Swt berfirman:

 

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (Q.S. An-Nisa: 36)

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kepada kedua orangtua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain. Allah Swt berfirman:

 

…..وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ…..

Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (Q.S. Al-Isra’: 23-24)

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Suatu hari, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. Rasulullah Saw bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jawab laki- laki itu, “Ini ayahku”. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath)

Berbakti kepada orangtua tidak terbatas tatkala mereka masih hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah Saw. Kata Rasulullah Saw, “Yakni dengan mengirim do’a (mendo’akan) dan memohonkan ampunan, menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orangtua, memelihara hubungan silaturahim serta memuliakan kawan dan kerabat orangtuamu.” Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkannya.

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Kendati seorang anak diperintah agar taat kepada orangtua, namun ketaatan itu tidak berlaku manakala keduanya memerintahkan untuk menyekutukan Allah Swt atau bermaksiat kepada-Nya. Sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (H.R. Ahmad)

Kita tentu ingat kisah salah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash, yang diberi dua buah pilihan oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, Sa’ad mengatakan, “Wahai Ibu, andaikan ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Itu sebabnya, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut, Allah Swt menurunkan ayat berikut:

 

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

 “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Q.S. Luqman: 15)

 

Jadi, kalau orangtua mengajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib bagi seorang anak menaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan mereka secara baik selama di dunia. Bergaul dengan orangtua memang harus hati-hati. Jangan sampai karena emosi, seorang anak terjerumus ke dalam sikap durhaka kepada kedua orangtua (‘uququl walidain).
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Durhaka kepada orangtua merupakan dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al Qur’an:

 

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’: 23)

 

Jika berkata ‘ah’ saja tidak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (H.R. Al Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw menyatakan, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (H.R. ath-Thabrani)

Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah berpesan bahwa keridhaan Allah Swt berada dalam keridhaan orangtua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orangtua? Oleh karena itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan, seorang anak hendaknya menunjukkan rasa hormat, dan bakti kepada keduanya. Tujuannya hanya satu, yaitu demi meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya.

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Kedua orangtua, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika mereka seorang muslim. Rasulullah Saw pernah berpesan, “Seorang muslim yang mempunyai kedua orangtua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orangtua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orangtua maka
Allah tidak ridha kepada-Nya.”

Maka, merugilah para anak yang hidup bersama orangtuanya di saat tua renta namun ia tidak bisa meraih surga, karena tidak bisa berbakti kepada keduanya. Terkait cara berbakti kepada orangtua, bisa dengan membiasakan perkataan yang baik kepada mereka. Kemudian diiringi dengan meringankan apa-apa yang menjadi bebannya. Yang jelas, bakti tertinggi yang tak pernah dibatasi oleh tempat dan waktu ialah do’a. Do’alah satu-satunya cara yang diajarkan Rasulullah Saw bagi anak-anak yang pernah menyakiti orangtuanya namun mereka meninggal sebelum ia memohon maaf kepadanya.

Adapun do’a yang diajarkan, antara lain, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an:

 

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra’: 24)

 

Demikianlah khutbah singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Oleh, Ahmad Fatoni  

(Pengajar AIK Universitas Muhammadiyah Malang)

Kumpulan Khutbah Jum’at Bersama Dakwah

Khutbah Jumat 2013Khutbah Jum’at sebenarnya merupakan salah satu sarana penting dalam mendidik umat dan mendakwahkan Islam kepada umat ini. Dalam rangka membantu para khatib, khususnya yang sangat sibuk dan memerlukan perbandingan tema atau materi secara praktis, Khutbah Jum’at 2013 ini bisa diakses dalam link-link di bawah, dan juga bisa di-download gratis.

Berikut link-link Khutbah Jum’at baik edisi 2013 maupun edisi-edisi sebelumnya:
(Khutbah Jum’at terbaru akan ditempatkan pada posisi paling bawah)

KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT TAHUN SEBELUMNYA
1. Bila Bencana Melanda » DOWNLOAD
2. Pemuda dan Perjuangan Islam » DOWNLOAD
3. Amal di Bulan Dulhijjah » DOWNLOAD
4. Ujian Hidup bagi Muslim » DOWNLOAD
5. Menjaga Aqidah Kita » DOWNLOAD
6. Arogansi, Provokasi, dan Anarkisme » DOWNLOAD
7. Menjaga Bumi » DOWNLOAD
8. Suap dan Korupsi dalam Perspektfi Islam » DOWNLOAD
9. Mewaspadai Godaan Syetan » DOWNLOAD
10. Racun-racun Hati » DOWNLOAD
11. Kedudukan Shalat dalam Islam » DOWNLOAD
12. Kejahatan dan Permusuhan Abadi Yahudi » DOWNLOAD
13. Persiapan Menghadapi Ramadhan » DOWNLOAD
14. Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki » DOWNLOAD
15. Amal di Bulan Syawal » DOWNLOAD
16. Dari Madrasah Ramadhan ke Universitas Haji» DOWNLOAD
17. Internalisasi Nilai dan Semangat Hijrah » DOWNLOAD
18. Pesatnya Peningkatan Jumlah Muslim » DOWNLOAD
19. Kemenangan Islam » DOWNLOAD
20. Menyambut Ramadhan 1432 H » DOWNLOAD
21. Isra’ Mi’raj » DOWNLOAD
22. Keutamaan Bulan Sya’ban » DOWNLOAD
23. Memaafkan Sesama Sebelum Ramadhan Tiba » DOWNLOAD
24. 6 Nama Lain Ramadhan dan Bagaimana Berinteraksi dengannya » DOWNLOAD
25. Sebelum Ramadhan Pergi » DOWNLOAD
26. Mewaspadai Permusuhan & Konspirasi Yahudi » DOWNLOAD
27. Bekal Abadi ke Akhirat » DOWNLOAD
28. Melanjutkan Spirit Qurban dalam Kehidupan » DOWNLOAD
29. Memakmurkan Masjid » DOWNLOAD
30. Keutamaan Muharam » DOWNLOAD
31. Hukum dan Bahaya Minuman Keras » DOWNLOAD
32. 10 Hak Ukhuwah dan Kasih Sayang » DOWNLOAD
33. Meneladani Rasulullah » DOWNLOAD
34. Palestina Memanggil Kita » DOWNLOAD
35. Amal Jariyah, Amal yang Tidak Terputus » DOWNLOAD
36. Ghirah dalam Beragama » DOWNLOAD
37. Menjadi Pribadi yang Bermanfaat (Nafi’un li Ghairihi) » DOWNLOAD
38. Berhasilkah Puasa Ramadhan Kita? » DOWNLOAD
39. Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah » DOWNLOAD

KHUTBAH JUM’AT TAHUN 2013
1. Menyegerakan Taubat » DOWNLOAD
2. Tuntunan Islam dalam Menyikapi Informasi » DOWNLOAD
3. Keutamaan Hari Jum’at » DOWNLOAD
4. Tazkiyatun Nafs » DOWNLOAD
5. Belajar Ikhlas dari Perang Muktah » DOWNLOAD
6. Bahaya Dukun dan Perdukunan » DOWNLOAD
7. Menolak Kemungkaran dan Kemaksiatan » DOWNLOAD

Semoga Kumpulan Khutbah Jum’at 2013 ini bermanfaat, khususnya bagi para khatib dan umumnya bagi semua umat Islam. Jika ada link yang error atau kesalahan dalam materi mohon untuk disampaikan di kotak komentar di bawah ini. Jazaakumullah khairan katsiiran.

Sumber: BersamaDakwah

[Khutbah Idul Adha] Makna Ibadah Qurban

Agus Tri Sundani

(Koordinator Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin jama’ah ‘Idul Adha yang mulia,

Mengawali kegiatan kita di pagi yang mulia ini, tiada kata yang pantas kita sanjungkan kecuali memanjatkan puji syukur dan sembah sujud taat setia kepada Zat yang Maha dari segala maha, Maha Pengasih tak pilih kasih, Maha Penyayang terhadap hambanya yang taat tunduk patuh kepada-Nya. Yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada pagi yang mulia ini kita mampu menggemakan Takbir, Tahmid dan Tahlil.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada seorang pemimpin yang rela berqurban jiwa, harta dan dirinya untuk mengangkat harkat dan martabat umatnya dari lumpur kejahilan, keterbelakangan menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, adil makmur dan diridhai Allah Swt. Beliaulah Rasulullah Muhammad Saw.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Saudaraku hamba Allah yang terhormat,

Merayakan ‘Idul Adha, mengingatkan kita akan peristiwa dan kisah penting yang syarat makna dalam kehidupan umat manusia. Yakni peristiwa perjalanan hidup baginda Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar, bersama putranya  Isma’il a.s.

Dari tahun ke tahun silih berganti, sejarah ‘Idul Adha, pengorbanan, dan haji disegarkan kembali agar semangat berkurban senantiasa berkobar dalam dada kita semua. Hampir-hampir tidak ada seorang pun dari kita yang tidak mengetahui sejarah ‘Idul Adha. Maka pada kesempatan yang mulia ini saya mengajak diri dan saudara sekalian untuk merenungkan kembali perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya, bukan sebagai cerita-cerita belaka, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam rangka meluruskan niat dan motivasi serta memperbesar tekad untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Lebih- lebih di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang hingga kini masih dihantui berbagai persoalan yang terasa sangat sulit untuk menghadapi dan mengatasinya, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, aqidah, moral, hukum, pertahanan dan keamanan. Yang semua itu terjadi karena adanya kesenjangan yang begitu besar antara pengakuan kita sebagai Muslim dengan realitas kehidupan yang kita jalani.

Melalui sejarah ‘Idul Adha kita dibawa untuk melihat kekuatan iman ketika ia harus menjawab realitas kehidupan, menjawab kenyataan hidup yang harus dihadapi.

Sebagai seorang pejuang, Nabi Ibrahim merasa sedih, resah dan gelisah, karena pada usianya yang telah senja belum dikaruniai seorang anak yang akan mewarisi dan melanjutkan cita-cita dan perjuanganya. Meskipun demikian Nabi Ibrahim tidak kenal putus asa. Bahkan beliau selalu berdo’a,

“Ya Tuhanku karuniakan kepadaku seorang anak yang shaleh.” (Q.S. As Shaffat : 10 )

Yang diminta Nabi Ibrahim bukan anak sembarang anak. Tetapi anak yang sesuai dengan cita-cita dan perjuangannya, yakni anak yang shaleh, anak yang mempunyai kepribadian sebagai manusia berakhlaq, beriman dan bertaqwa pada Allah Swt.

Sejarah mengungkapkan misteri yang luar biasa. Nabi Ibrahim yang telah berusia senja akhirnya dikabulkan do’anya oleh Allah Swt. Melalui Siti Hajar, istri keduanya, Nabi Ibrahim a.s. dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail, si buah hati sibiran tulang. Akan tetapi, belum lagi Ismail tumbuh dewasa, keimanan Nabi Ibrahim kembali diuji Allah Swt. Melalui mimpi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terlintas dalam pikirannya, Ismail yang dibayangkan sebagai penerus perjuangannya, harus berakhir di ujung pedangnya sendiri. Orang tua manakah yang sanggup membayangkan tugas semacam itu?

Di sinilah iman dan ketulusan dihadapkan dengan realitas pilihan antara hati dan akal, antara cinta pada Allah dengan cinta pada anak. Nabi Ibrahim sempat mengalami kebimbangan antara cinta dan kebenaran. Dan akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan kebenaran serta cinta pada Allah daripada kecintaannya kepada anak satu-satunya yang dimiliki. Nabi Ibrahim meyakini dan menyadari bahwa semua miliknya pada hakikatnya adalah milik Allah dan pemberian Allah. Bila dikehendaki, Allah berhak meminta kembali seluruh milik-Nya, baik itu di langit dan di bumi. Namun demikian, Nabi Ibrahim menempuh dengan cara-cara yang arif dan bijaksana, Ismail putra kesayangannya dipanggil untuk diperkenalkan pada hakikat hidup, cinta dan kebenaran. Dan Ismail mampu menangkap kegalauan hati ayahnya. Kepada ayahnya, Ismail memilih kata yang tepat dalam menyatakan pendapat, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. As Shaaffat : 102)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin hamba Allah yang terhormat,

Ketika kedua insan itu dengan ikhlas menjalankan perintah Allah dan pisau pun nyaris menggores leher Ismail, tiba-tiba terdengar suara dari lembah memanggil Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.  Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”  ( Q.S. As Shaaffat : 105-107)

Demikianlah Nabi Ibrahim dan Ismail a.s., membuktikan keimanan dan kecintaan serta ketaatan pada Allah, sehingga Allah menggantinya dengan kenikmatan yang tiada tara yaitu seekor sembelihan domba yang besar. Dan peristiwa inilah yang melatarbelakangi disyari’atkannya ibadah qurban yang senantiasa kita laksanakan setiap tanggal 10 sampai 13 Dzuhijjah.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Dari kisah yang disampaikan tadi, dapat kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif yang berserah diri secara total pada Allah Swt, sebagaimana Firman  Allah Swt dalam Qur’an Surat Al Imran 67, “Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, dia adalah seorang yang lurus dan muslim yang sejati dan ia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Secara lughawi, hanif berarti lurus, murni dan kokoh, seorang yang hanif adalah mereka yang lurus imannya, tidak tercampur dengan kemusyrikan dan kebatilan, imannya kokoh serta tertanam dalam hati sanubari dan setiap gerak langkah hidupnya. Seorang yang hanif adalah mereka yang tidak membantah, menawar apalagi mengingkari perintah Allah Swt, sekalipun perintah itu sangat berat untuk dilaksanakan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin yang mulia,

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat Yusuf ayat 111 yang khatib bacakan di muqadimah, bahwa kisah dan cerita dalam Alquran bukanlah dongeng belaka, akan tetapi mengandung pelajaran yang berharga serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman serta menggunakan akal pikirannya.

Seperti kisah Nabi Ibrahim, ibadah haji dan qurban. Hal tersebut bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang beraqidah benar dan  berakhlaq mulia.  Kesempurnaan ibadah dapat diraih apabila formal syariahnya terpenuhi dan tumbuhnya akhlaq sebagai wujud dari ibadah tersebut. Seperti ibadah haji dan qurban, di samping nilai-nilai spiritual, ibadah haji dan qurban juga memiliki nilai-nilai sosial, kemanusiaan yang sangat luhur. Diantaranya adalah:

Pertama, Qurban mengajarkan kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus dan serakah. Qurban mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Seseorang tidak pantas kenyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak orang disekitarnya yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Terlebih keadaan seperti sekarang ini, apalagi dengan banyaknya musibah dan bencana, mulai dari bencana alam, bencana ekonomi, politik, moral, budaya, hukum, aqidah dan lain-lain, sehingga kemiskinan muncul di mana-mana, baik miskin harta, miskin ilmu maupun miskin iman. Dan ingat! Hal itu juga dijadikan lahan subur gerakan pemurtadan untuk mencuri aqidah umat. Oleh karena itu, disyari’atkanya persyaratan hewan qurban yang begitu ketat, sesungguhnya merupakan tuntunan bagaimana agar kita bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama, sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 92.

Bahkan, Rasulullah Saw juga menegaskan dalam Hadis Riwayat Bazzaar, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”

 

Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hamba Allah yang mulia.

Yang kedua, pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim a.s. adalah tentang qurban yang kemudian dilembagakan sebagai ibadah mahdhah setiap tahun bagi umat Islam. Sebagaimana dijelaskan Qur’an Surat As Shaffaat ayat 106-107, bahwa Allah Swt mengganti Ismail dengan seekor kibasy yang besar adalah sebagai balasan bagi kepatuhan, ketabahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya dalam menjalankan perintah Allah Swt. Hal tersebut melatih kita untuk rela mengurbankan apa saja demi untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, karena seorang mukmin yang mencintai Allah Swt, akan berusaha mendekati Allah dengan apa saja yang diinginkan oleh Allah “kekasihnya”, sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya.

Secara formal ritual, qurban hanya menyembelih seekor hewan sekali setahun pada setiap tanggal 10 hingga 13 dzulhijah, akan tetapi secara spiritual kita dapat menangkap maksud yang lebih luas yaitu bagaimana agar kita dapat terlatih berkurban demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Apakah itu kurban waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa sekalipun untuk memperjuangkan apa-apa yang dipesankan Allah Swt lewat agama yang diturunkannya yaitu Islam. Hikmah spiritual seperti itu akan semakin jelas, kalau kita kembali merenungkan peristiwa qurban yang dijalankan Ibrahim As dan Ismail As.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Jama’ah Idul Adha yang mulia.

Yang ketiga, secara simbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dan di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi, jika sikap dan tingkah lakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian, maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 179.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hadirin yang mulia,

Yang keempat, Qurban mengingatkan pada kita agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai harkat dan martabat kemanusiaan. Digantinya Ismail dengan seekor domba menyadarkan kita, bahwa mengorbankan manusia di atas altar adalah perbuatan yang dilarang Allah Swt. Ibadah yang kita lakukan harus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia. Bahkan hewan qurban yang akan kita sembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, kejam, mungkar, dzalim dan lain sebagainya adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Islam. Dalam pandangan Islam membunuh manusia tanpa dasar yang dibenarkan syari’at, sama kejinya dengan membunuh seluruh umat manusia, demikian yang dijelaskan Allah dalam Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 32.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hamba Allah yang terhormat.

Saat ini kita hidup dalam situasi sosial yang sangat memprihatinkan, banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, mereka menderita karena berbagai musibah dan bencana, baik itu bencana alam, politik, ekonomi, hukum, aqidah, moral dan lain sebagainya. Dan yang paling menyedihkan adalah terkuburnya nilai-nilai kemanusiaan, sudah tidak terhingga perbuatan anarkis dan tindak kekerasan meluluh lantahkan bangunan dan tempat-tempat berharga. Terlalu banyak tragedi kemanusian dan darah tertumpah karena angkara murka. Dengan mudah sebagian masyarakat kita menghabisi nyawa sesama. Ibu membunuh anaknya, anak membunuh bapaknya, rakyat menghujat pemimpinnya, pemimpin menindas rakyatnya, penegak hukum melanggar hukum dan lain sebagainya.

Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hadirin yang mulia.

Qurban adalah usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, mematuhi dengan segala daya dan upaya semua yang diperintahkan dan dengan sekuat tenaga menjauhi laranganNya. Begitu juga dengan ibadah haji, yang merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim a.s beserta keluarganya. Sebagaimana ibadah-ibadah lain, ibadah haji bukanlah ibadah formal yang hanya di ukur dari pelaksanaannya semata, di samping nilai ubudiyah dan spiritualnya, ibadah haji juga merupakan sarana membentuk pribadi yang taat, tunduk, patuh dan rela diatur undang-undang Allah Swt, berakhlaq mulia dan berkepribadian luhur.

Ukuran ketaqwaan seseorang tidak hanya dilihat dari kualitas ibadahnya semata, tetapi yang sangat penting adalah aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Saw menyatakan, “Dan tidak ada pahala lain bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

Demikian, rangkaian hikmah dan pelajaran dari ibadah qurban. Semoga kita semua mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya mari kita berdoa dan mohon ampun pada Allah Swt, seraya memohon Rahmat-Nya…

Amin ya rabbal ‘alamin… [Majalah Tabligh edisi Dzulqaidah – Dzulhijjah 1433 H]]

 

MEWUJUDKAN GENERASI BERKARAKTER

H. M. Abu Fariq Al-Faruqi

Sekretaris PW Muhammadiyah Sumatera Barat 1990-1995

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An Nisa’ : 9)

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Kita agaknya menyadari, kerapuhan moral yang menggeregoti generasi muda tidak hanya karena sistem proses belajar-mengajar yang kering makna selama ini di lembaga-lembaga pendidikan kita. Kerusakan moral lebih disebabkan runyamnya situasi dan kondisi  yang menggeliat di luar ruang sekolah. Dan, dalam kondisi carut-marut seperti sekarang, lahirlah sebuah kebijakan dari penguasa negeri. Yaitu menyelenggarakan pendidikan karakter yang secara legalitas formal diamanahkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Termasuk institusi pendidikan di bawah tudung Kemendikbud tersebut. Sebut saja SD Negeri, SMP, SMA, SMK dan lain sebagainya. Selain itu, Kementerian Agama RI—tidak terkecuali Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN); Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN); serta Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan lainnya juga mendapat kepercayaan mengayunkan pendidikan karakter tersebut.

Jauh sebelum itu, sebenarnya Islam yang bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul yang shahih dan maqbulah telah mengamanahkan agar kita berikhtiar secara gigih mewujudkan generasi muda yang berkarakter sebagaimana tertuang dalam Q.S. An Nisa’ ayat 9 yang telah khatib bacakan di awal khutbah tadi.

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Bertolak dasar dari pendapat jumhur ‘ulama dan mufassirin, kalimah dhi’afa (lemah) yang terpaut dalam Q.S. An Nisa’ ayat 9, tidak hanya berarti lemah dalam artian fisik, atau badaniyah. Lebih jauh dari itu, kita selaku orang tua—yang berposisi sebagai pendidik utama dalam keluarga juga difardhukan oleh Allah Swt—untuk tidak meninggalkan anak dan generasi yang lemah dari segi ‘aqidah, ibadah, akhlaqul karimah, dan juga dalam membingkai hidup bermu’amalah duniawiyah.

Dalam bidang ‘aqidah misalnya, kita harus menanamkan kepada anak-anak sejak dini bahwasanya Allah Swt itu Esa. Tidak hanya Esa dalam dzat, tetapi juga Esa di dalam sifat dan perbuatan. Mari kita camkan ke petala hati firman-Nya:

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada ber-anak dan tiada diper-anakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Q.S. Al Ikhlash : 1- 4)

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Bila substansi Q.S. Al Ikhlash ayat 1-4 ini benar-benar terhunjam ke dalam jiwa anak/generasi muda, insya Allah mereka akan terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik dalam segala bentuk dan manifestasinya. Tidak saja syirik warisan zaman jahiliyah—tetapi anak/generasi muda kita juga akan terpelihara dari syirik modern yang kini sudah menjalar ke komunitas paling bawah sebagaimana diumbar lewat media cetak, televisi dan internet. Na’u zdubillhi min dzalik!

Sekaitan dengan hal yang mengkhawatirkan itu, semua pihak sejatinya ikut bertangung-jawab mewujudkan anak/generasi muda yang berkarakter. Caranya, selain mendidik mereka di wadah-wadah pendidikan formal, informal dan non formal, kita orang tua juga dituntut dan dituntun menadahkan tangan kepada Allah Swt sembari melafadzkan seuntai do’a. Misalnya:

“Dan orang-orang yang berkata (berdo’a): “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” ( Q.S. Al Furqan : 74)

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Lalu pertanyaannya! Bagaimana kiat, kaifiat, dan proses pembentukan karakter anak dan generasi muda itu? Dr. Henmaidi, Dosen Universitas Andalas Padang, memaparkan proses pembentukan generasi berkarakter dapat dikerucutkan ke dalam lima tahap, yang masing-masing tahap sepertinya berjalin-kelindan. Pertama, diawali dari pengetahuan dan pemahaman atas suatu karakter. Kedua, proses meniru dan menerapkan. Ketiga, pembiasaan—dimana karakter itu mulai dijadikan kebiasaan. Keempat, pembudayaan—dimana tidaklah cukup segelintir orang saja yang membiasakan berkarakter, sementara lingkungan—dalam artian luas semakin merisaukan. Kelima, baru menjadi karakter. Nah! Ketika sudah sampai pada tahap membiasakan,  sifat itu pun menjadi karakter.

Nyaris sama dan sebangun dengan Henmaidi, Prof. Dr. H. Azmi, MA menghidangkan pendidikan karakter tersebut, ke dalam dua sisi. Yaitu sisi personal dan sisi sosial. Sisi personal menjamah sikap terhadap diri sendiri. Sedangkan sisi sosial, bersentuhan dengan sikap terhadap di luar diri sendiri. Dipiuh dan dipilin (diperas) lagi oleh mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat ini, menjadi lima sikap (attitude). Misalnya (1) memupuk sikap saling menghormati dan toleran pada perbedaan; (2) menumbuh-kembangkan sikap kebersamaan dan persamaan (musawwah/egaliterianisme); (3) memupuk kebiasaan pemurah dengan mengulurkan bantuan—moral dan material terhadap orang lain; (4) berkomunikasi secara baik dengan orang lain—dibarengi sikap ramah dan hormat; (5) memelihara, dan atau peduli pada kemaslahatan umum. Kedua sisi (sisi personal & sosial) inilah yang pada gilirannya membentuk warga negara yang baik—“dan inilah tujuan utama dari pendidikan nasional”, imbuh Azmi. Sedangkan Kasra Scorpi, seorang wartawan surat kabar terkemuka di Padang, menyuguhi kita bahwa karakter merupakan watak yang teraplikasi dalam bentuk sikap dan perilaku manusia yang sesuai dengan nilai-nilai ke-Tuhanan, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai hukum untuk menghadapi sesuatu. “Makanya kita membutuhkan karakter berupa sikap dan perilaku terhadap kehidupan, beragama, bersosial, berbudaya, berbangsa dan bernegara”, kata Kasra Scorpi.

Terlepas dari cukup beragam dan bervariasinya—baik aspek isi, sudut pandang dan style para para pakar tadi dalam menatap hal-ihwal karakter plus pendidikan berkarakter—tetapi yang jelas semuanya punya beberapa kesepahaman terkait dengan proses pendidikan karakter: Pertama, pentingnya keteladanan dari semua pihak. Kedua, tidak perlu menambah mata ajar/bidang studi di sekolah/perguruan tinggi. Ketiga, dana yang dialokasikan untuk mendaya-ungkit aspek perangkat lunak kependidikan akan lebih afdhal dimanfaatkan untuk membangun perangkat keras.

Dan, yang disebut penggal awal misalnya, nyaris tidak ada perbedaan, semua mereka berobsesi memosisikan contoh-teladan (qudwah-hasanah) dari semua pihak dan komponen bangsa terhadap anak didik, dan atau para generasi muda. Konkretisasinya, semua stakeholders kependidikan (guru/dosen, karyawan, pimpinan dan lainnya) sejatinya memberikan contoh-teladan. Lingkup orientasinya, mesti menjamah semua sisi dan kisi kehidupan. Seorang guru/dosen akan gagal mendisiplin peserta didik, misalnya agar murid/mahasiswa harus hadir 15 menit di ruangan belajar, sebelum proses belajar mengajar dimulai—sementara gurunya sendiri datang terlambat. Meski misalnya kadang berdalih terjebak arus kemacetan—namun anak didik bisa-bisa kehilangan kepercayaan. Bila sudah begitu, materi pendidikan yang dihidangkan guru/dosen bisa-bisa pula tidak hinggap di sekeping kalbu anak didik. Bukankah dalam teori pendidikan, mesti terbentang jembatan hati (mawaddah fi al-qurba) antara subjek didik (al-mu’aalim/al-mudarris) dan objek didik (al-mad’u)?

Untuk mengkomunikasikan (menginternalisasikan) seabreg norma-norma dan nilai-nilai positif, sepertinya sudah tak cukup lagi hanya lewat komunikasi verbal. Yang didambakan siswa/mahasiswa, masyarakat tidak lain adalah komunikasi non verbal. Dan, secara substansial, kondisi sosial objektif semacam itulah yang disebut keteladanan tadi.

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Sedangkan yang bertali-temali dengan penambahan mata ajaran, dan atau bidang studi, agaknya memang tidaklah diperlukan. Soalnya, bukankah semua mata ajaran/bidang studi—baik berkategori eksakta (IPA) maupun yang termasuk rumpun ilmu sosial (IPS)—pada hakekatnya bisa dikondisikan bagi proses pembentukan karakter peserta didik? Dan, pada hemat kita dalam kerangka inilah diperlukan mendongkrak kompetensi subjek didik. Cakupannya? Tidak hanya berkutat pada kompetensi substantif—semisal revitalisasi, redefinisi dan reposisi Al Islam sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan (Q.S. Al Mujadalah ayat 11 & Surat Al ‘Alaq ayat 1). Tetapi, yang lebih penting dari itu, juga membenahi kompetensi metodologis (sistem dan mekanisme proses belajar mengajar).

 

Kaum muslimin Rahima kumullah!

Melacak lebih jauh, betapa pentingnya membangun pendidikan berkarakter, dan atau membenahi infrastruktur kependidikan, sinkron dan seirama dengan satu adagium yang diapungkan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya “The Great Distruption” (1997), “Setiap kegalauan besar, mesti dianyam satu rekonstruksi besar. Kiatnya, tumbuhkan team work (kerjasama tim) dan trust  (kepercayaan) berskala besar – demi menjuluk kemenangan yang lebih besar.”

Demikianlah khutbah kita pada Jum‘at yang penuh berkah dan maghfirah ini. Fa’tabiru ya ulil abshar. [ ]

 

Timber by EMSIEN 3 Ltd BG