Breaking News

Khutbah

Revolusi Menuju Taqwa

H. Agus Tri Sundani

Sekretaris PWM DKI Jakarta


 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّـهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 185)

 

 

Hadirin jamaah Jum’at yang terhormat,

Alhamdulillah, kita diberi kesempatan oleh Allah Swt berjumpa kembali dengan Ramadhan, sebagaimana dulu Rasulullah Saw selalu bergembira dan bersiap diri menyambut bulan penuh berkah ini, menghidupkan malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dalam beramal manakala Ramadhan sudah tiba. Begitu pula seharusnya yang kita lakukan. Kedatangan “sang tamu istimewa” ini hendaknya kita sambut sebaik-baiknya. Kita harus mempersiapkan diri agar bisa memperoleh berkah melimpah selama bulan tersebut.

 

Hamba Allah yang mulia,

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, yang wajib dikerjakan oleh setiap orang Mukmin dan Mukminah akil baligh yang mempunyai kemampuan fisik untuk melaksanakannya. Puasa dalam ajaran Islam mempunyai tujuan yang tinggi dan menyimbolkan makna yang dalam. Satu bulan lamanya kaum Muslimin menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari, bukan karena kekurangan makanan dan minuman, melainkan lantaran memenuhi perintah Illahi dan menyatakan kebaktian kepada-Nya.

Dengan ibadah puasa itulah segenap kaum Muslimin menjalani proses pembinaan dan pendidikan, di mana mereka melakukan introspeksi diri, melatih disiplin, meningkatkan daya tahan, memperkuat semangat, mempertebal iman, memperbanyak amal dan berlatih mengendalikan diri dengan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai puasa dalam pergaulan hidup di masyarakat.

 

Hadirin yang terhormat,

Puasa dalam ajaran Islam merupakan rukun agama Islam yang keempat dan menempati kedudukan yang istimewa. Puasa bukan suatu hukuman terhadap manusia, melainkan merupakan suatu pembentukan sikap disiplin dan kemampuan mengendalikan diri. Puasa menguatkan kemauan dan membebaskan manusia dari cengkraman nafsu, mempertinggi kesadaran moral, mempertajam kepekaan nurani dan memurnikan spiritualitas melalui pengaturan dan pengendalian keinginan. Dengan demikian, puasa merupakan jihad atau perjuangan untuk mencapai keseimbangan fisik, moral dan spiritual.

Perlu dicermati bahwa puasa bukan semata-mata melaksanakan aktifitas fisik berupa menahan lapar, dahaga, dan hasrat seksual belaka. Di balik itu semua tersimbolkan suatu makna yang lebih dalam. Intisari filosofi puasa adalah kemampuan mengendalikan diri dari segala perbuatan tercela dan menunda suatu kenikmatan sementara dalam rangka mencapai tujuan yang lebih besar. Puasa yang dijalankan secara mekanistik dan dengan sekedar menjalankan kegiatan fisik tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual (bagi suami istri) di siang hari serta tidak dapat mewujudkan filosofi puasa dalam kehidupan keseharian adalah puasa yang tidak bermakna dan di sisi Allah merupakan hal yang sia-sia. Dalam sebuah Hadits Nabi Saw mengingatkan:

 

عـَنْ أَبـِي هـريـرة رضي الله عنه, قـال رسـول الله صلى الله عـلـيـه وسـلم ربّ صـائم لـيـس لـه مـن صـيـامـه إ لاّ الجـوع وربّ قـائـم لـيـس لـه مـن قـيـامـه إلاّ الـسـّهـر

“Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda: Betapa banyaknya orang berpuasa, namun perolehannya dari puasa itu hanyalah lapar dan dahaga belaka, dan berapa banyaknya orang yang melakukan qiyamul-lail, namun yang ia peroleh dari qiyamul-lail tersebut hanyalah kelelahan tidak tidur belaka.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

Hadirin yang mulia,

Dalam Hadits lain juga dinyatakan bahwa Allah tidak perlu kepada puasa yang sekedar melakukan aktifitas jasmani tanpa puasa itu dapat mempengaruhi tingkah laku ke arah yang lebih baik, seperti meninggalkan sifat suka berdusta dan lain-lain. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak memandang perlu ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhari, Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.)

Dari Hadits tersebut dapatlah kita fahami bahwa puasa yang nilai-nilainya tidak terjelmakan dalam tingkah laku adalah puasa yang sia-sia di sisi Allah. Puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang didasarkan kepada suatu komitmen otentik untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat dan sekaligus terefleksikan nilai-nilainya dalam tingkah laku nyata.

Selain dari perlunya meresapi nilai-nilai dan makna yang disimbolkan puasa, juga sama pentingnya untuk memperhatikan dan menepati tuntunan-tuntunan syar’i mengenai pelaksanaannya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, pentingnya kita pelajari dan baca kembali kitab-kitab yang berkaitan dengan fiqh syiam atau tuntunan puasa menurut Rasulullah Saw, agar kita dapat menjalankan ibadah puasa tahun ini dengan baik dan sempurna sehingga tercapai derajat taqwa.

Akhirnya, semoga kita semua selalu dirahmati, diberkahi serta diberi panjang umur oleh Allah Swt sehingga kita dapat berkesempatan untuk melakukan revolusi menuju taqwa. Wallahu ‘alam. [ ]

Induk Segala Kejahatan

Agus TrisundaniAgus Tri Sundani

Koordinator Divisi Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Sekretaris PWM DKI Jakarta

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berfikir.” (Al Baqarah : 219) 

Hadirin hamba Allah yang mulia,

Suatu hari ketika turun ayat 219 surat Al Baqarah yang kami bacakan di muqadimah tadi, sahabat Umar bin Khatab r.a. berkata, “Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan.” Maka kemudian Allah turunkan surat An Nisa ayat 43:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk.” 

Hadirin yang terhormat,

Dengan turunnya surat An Nisa ayat 43 tersebut, Rasulullah Saw langsung memerintahkan kepada mu’adzin (pengumandang adzan) agar setiap kali hendak shalat menyerukan, “Orang yang mabuk tidak boleh mendekati shalat.” Namun, di sisi lain Umar bin Khatab r.a., merasa gelisah dan belum jelas, sehingga beliau berdo’a lagi sebagaimana do’a yang pertama, hingga kemudian akhirnya turunlah surat Al Maidah ayat 90-91 yang menegaskan tentang keharaman khamr (minuman keras) dan Allah menyetarakannya dengan judi dan penyembahan berhala:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minuman) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).”

Dan ketika ayat ini dibacakan Rasulullah saw kepada Umar bin Khatab r.a. berkata, “Kami akan berhenti, kami akan berhenti.” ( HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i). Bahkan, sahabat Umar juga mengeluarkan pernyataan, “Khamr adalah semua yang memabukkan dan menutupi akal.”

Hadirin yang terhormat,

Allah mengharamkan khamr dan judi, karena di dalamnya terkandung bahaya yang fatal, kerusakan yang banyak dan dosa yang besar yang berbuntut kehinaan dan kemungkaran, baik terhadap fisik, akal maupun harta. Di antara bahaya khamr adalah menghilangkan fungsi akal, hingga membuat peminumnya seperti orang gila, alat pencernaan makanan melemah, mengakibatkan infeksi lambung dan usus, perenggang jantung, menghambat peredaran darah dan tidak jarang dapat menghentikan kerja jantung sehingga peminumnya bisa mati mendadak.

Untuk membuktikan keburukan khamr ini, maka cukup dengan sebutan sebagai “Induk segala kejahatan” sebagaimana yang diriwayatkan  An-Nasa’I, dari Utsman bin Affan r.a., bahwa dia berkata, “Jauhilah khamr (minuman keras), karena khamr itu merupakan induk segala keburukan dan induk dari dosa-dosa yang keji, sesungguhnya dahulu ada seorang abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disenangi seorang pelacur. Maka pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, ‘kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.’ Maka ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik, bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang sambil membawa secawan khamr dan dekatnya ada bayi yang masih kecil. Wanita tersebut berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamr barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.’ Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’ Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, ‘zina saya tidak mau, membunuh juga tidak.’ Lalu ia memilih untuk meminum khamr seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu. Karena itu jauhilah khamr (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamr dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya.

Begitu pesan Usman bin Afan r.a. Yakni seorang jika telah mabuk, maka yang sering keluar dari lidahnya adalah kata-kata kufur, lalu menjadi kebiasaan sehingga dibawa mati dalam kalimat kufur itu, sehingga menyebabkan ia kekal di neraka.

Hamba Allah yang mulia,

Rasulullah Saw merasa tidak cukup dengan mengharamkan minum khamr atau miras, sedikit atau pun banyak, bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun dengan orang non muslim. Oleh karena itu, tidak halal hukumnya seorang muslim memproduksi miras, atau membuka warung miras, atau bekerja di tempat penjualan miras.

Dalam hal ini Rasulullah Saw pernah melaknat sepuluh golongan sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ

 

“Rasulullah Saw melaknat tentang miras (khamr), sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta diantarinya, (6) yang menuangkanya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.”

 Bahkan saudaraku yang terhormat, ketika ayat 90-91 surat Al Maidah turun Rasulullah Saw kemudian bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ الْخَمْرَ فَمَنْ أَدْرَكَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ وَعِنْدَهُ مِنْهَا شَيْءٌ فَلَا يَشْرَبْ وَلَا يَبِعْ

 Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr (miras), maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai khamr walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (H.R. Muslim)

 Hadirin yang terhormat,

Setelah mendengar sabda Nabi Saw tersebut, para shahabat kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan khamr di jalan-jalan Madinah lantas dituangkan ke tanah. Bahkan, untuk membendung jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram Rasulullah Saw juga melarang seorang muslim menjual anggur kepada orang yang sudah diketahui, bahwa anggur itu akan dibuat khamr. Sebagaimana sabdanya dalam hadits riwayat Thabrani:

Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada tukang membuat khamr, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.”

Selain daripada itu, Rasulullah Saw juga melarang duduk-duduk bersama di majelis yang ada minum khamr. Sebagaimana hadits riwayat Ahmad dari Umar bin Khatab r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan khamr.”

Dari hadits tersebut dapatlah kita fahami bahwa begitu ketat Rasulullah Saw mencegah umat Islam agar tidak terjerumus untuk mengonsumsi khamr atau miras, dan setiap muslim diperintahkan untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.

Hadirin jamaah Jum’at yang terhormat,

Dari keterangan dan hadits serta kisah yang kami sampaikan, jelaslah bagi kita bahwa miras atau khamr adalah benar-benar induk dari kejahatan dan juga sumber dari kerusakan moral. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhi sejauh-jauhnya dan menjaga keluarga dan masyarakat dari minum khamr atau miras, dan apabila ada yang membolehkannya khamr beredar dengan bebas siapun orangnya, kita wajib mencegah dan menentangnya. Akhirnya, kita berdo’a semoga Allah melindungi keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia dari bahaya khamr dan sejenisnya. Amin yaa rabbal ‘alamin. [Majalah Tabligh – Edisi ]

Berbakti Kepada Orangtua

birul-walidainإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian dibenarkan?” Jawab Rasulullah Saw, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orangtuamu.” (H.R. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah)

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak orangtua atas anaknya. Bukan saja saat sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orangtuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu, hak tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orangtua (birrul walidain) menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah Swt dengan mengesakan-Nya. Allah Swt berfirman:

 

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (Q.S. An-Nisa: 36)

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kepada kedua orangtua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain. Allah Swt berfirman:

 

…..وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ…..

Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (Q.S. Al-Isra’: 23-24)

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Suatu hari, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. Rasulullah Saw bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jawab laki- laki itu, “Ini ayahku”. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath)

Berbakti kepada orangtua tidak terbatas tatkala mereka masih hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah Saw. Kata Rasulullah Saw, “Yakni dengan mengirim do’a (mendo’akan) dan memohonkan ampunan, menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orangtua, memelihara hubungan silaturahim serta memuliakan kawan dan kerabat orangtuamu.” Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkannya.

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Kendati seorang anak diperintah agar taat kepada orangtua, namun ketaatan itu tidak berlaku manakala keduanya memerintahkan untuk menyekutukan Allah Swt atau bermaksiat kepada-Nya. Sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (H.R. Ahmad)

Kita tentu ingat kisah salah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash, yang diberi dua buah pilihan oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, Sa’ad mengatakan, “Wahai Ibu, andaikan ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Itu sebabnya, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut, Allah Swt menurunkan ayat berikut:

 

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

 “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Q.S. Luqman: 15)

 

Jadi, kalau orangtua mengajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib bagi seorang anak menaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan mereka secara baik selama di dunia. Bergaul dengan orangtua memang harus hati-hati. Jangan sampai karena emosi, seorang anak terjerumus ke dalam sikap durhaka kepada kedua orangtua (‘uququl walidain).
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Durhaka kepada orangtua merupakan dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al Qur’an:

 

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’: 23)

 

Jika berkata ‘ah’ saja tidak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (H.R. Al Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw menyatakan, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (H.R. ath-Thabrani)

Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah berpesan bahwa keridhaan Allah Swt berada dalam keridhaan orangtua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orangtua? Oleh karena itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan, seorang anak hendaknya menunjukkan rasa hormat, dan bakti kepada keduanya. Tujuannya hanya satu, yaitu demi meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya.

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia,

Kedua orangtua, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika mereka seorang muslim. Rasulullah Saw pernah berpesan, “Seorang muslim yang mempunyai kedua orangtua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orangtua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orangtua maka
Allah tidak ridha kepada-Nya.”

Maka, merugilah para anak yang hidup bersama orangtuanya di saat tua renta namun ia tidak bisa meraih surga, karena tidak bisa berbakti kepada keduanya. Terkait cara berbakti kepada orangtua, bisa dengan membiasakan perkataan yang baik kepada mereka. Kemudian diiringi dengan meringankan apa-apa yang menjadi bebannya. Yang jelas, bakti tertinggi yang tak pernah dibatasi oleh tempat dan waktu ialah do’a. Do’alah satu-satunya cara yang diajarkan Rasulullah Saw bagi anak-anak yang pernah menyakiti orangtuanya namun mereka meninggal sebelum ia memohon maaf kepadanya.

Adapun do’a yang diajarkan, antara lain, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an:

 

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra’: 24)

 

Demikianlah khutbah singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Oleh, Ahmad Fatoni  

(Pengajar AIK Universitas Muhammadiyah Malang)

Kumpulan Khutbah Jum’at Bersama Dakwah

Khutbah Jumat 2013Khutbah Jum’at sebenarnya merupakan salah satu sarana penting dalam mendidik umat dan mendakwahkan Islam kepada umat ini. Dalam rangka membantu para khatib, khususnya yang sangat sibuk dan memerlukan perbandingan tema atau materi secara praktis, Khutbah Jum’at 2013 ini bisa diakses dalam link-link di bawah, dan juga bisa di-download gratis.

Berikut link-link Khutbah Jum’at baik edisi 2013 maupun edisi-edisi sebelumnya:
(Khutbah Jum’at terbaru akan ditempatkan pada posisi paling bawah)

KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT TAHUN SEBELUMNYA
1. Bila Bencana Melanda » DOWNLOAD
2. Pemuda dan Perjuangan Islam » DOWNLOAD
3. Amal di Bulan Dulhijjah » DOWNLOAD
4. Ujian Hidup bagi Muslim » DOWNLOAD
5. Menjaga Aqidah Kita » DOWNLOAD
6. Arogansi, Provokasi, dan Anarkisme » DOWNLOAD
7. Menjaga Bumi » DOWNLOAD
8. Suap dan Korupsi dalam Perspektfi Islam » DOWNLOAD
9. Mewaspadai Godaan Syetan » DOWNLOAD
10. Racun-racun Hati » DOWNLOAD
11. Kedudukan Shalat dalam Islam » DOWNLOAD
12. Kejahatan dan Permusuhan Abadi Yahudi » DOWNLOAD
13. Persiapan Menghadapi Ramadhan » DOWNLOAD
14. Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki » DOWNLOAD
15. Amal di Bulan Syawal » DOWNLOAD
16. Dari Madrasah Ramadhan ke Universitas Haji» DOWNLOAD
17. Internalisasi Nilai dan Semangat Hijrah » DOWNLOAD
18. Pesatnya Peningkatan Jumlah Muslim » DOWNLOAD
19. Kemenangan Islam » DOWNLOAD
20. Menyambut Ramadhan 1432 H » DOWNLOAD
21. Isra’ Mi’raj » DOWNLOAD
22. Keutamaan Bulan Sya’ban » DOWNLOAD
23. Memaafkan Sesama Sebelum Ramadhan Tiba » DOWNLOAD
24. 6 Nama Lain Ramadhan dan Bagaimana Berinteraksi dengannya » DOWNLOAD
25. Sebelum Ramadhan Pergi » DOWNLOAD
26. Mewaspadai Permusuhan & Konspirasi Yahudi » DOWNLOAD
27. Bekal Abadi ke Akhirat » DOWNLOAD
28. Melanjutkan Spirit Qurban dalam Kehidupan » DOWNLOAD
29. Memakmurkan Masjid » DOWNLOAD
30. Keutamaan Muharam » DOWNLOAD
31. Hukum dan Bahaya Minuman Keras » DOWNLOAD
32. 10 Hak Ukhuwah dan Kasih Sayang » DOWNLOAD
33. Meneladani Rasulullah » DOWNLOAD
34. Palestina Memanggil Kita » DOWNLOAD
35. Amal Jariyah, Amal yang Tidak Terputus » DOWNLOAD
36. Ghirah dalam Beragama » DOWNLOAD
37. Menjadi Pribadi yang Bermanfaat (Nafi’un li Ghairihi) » DOWNLOAD
38. Berhasilkah Puasa Ramadhan Kita? » DOWNLOAD
39. Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah » DOWNLOAD

KHUTBAH JUM’AT TAHUN 2013
1. Menyegerakan Taubat » DOWNLOAD
2. Tuntunan Islam dalam Menyikapi Informasi » DOWNLOAD
3. Keutamaan Hari Jum’at » DOWNLOAD
4. Tazkiyatun Nafs » DOWNLOAD
5. Belajar Ikhlas dari Perang Muktah » DOWNLOAD
6. Bahaya Dukun dan Perdukunan » DOWNLOAD
7. Menolak Kemungkaran dan Kemaksiatan » DOWNLOAD

Semoga Kumpulan Khutbah Jum’at 2013 ini bermanfaat, khususnya bagi para khatib dan umumnya bagi semua umat Islam. Jika ada link yang error atau kesalahan dalam materi mohon untuk disampaikan di kotak komentar di bawah ini. Jazaakumullah khairan katsiiran.

Sumber: BersamaDakwah

[Khutbah Idul Adha] Makna Ibadah Qurban

Agus Tri Sundani

(Koordinator Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin jama’ah ‘Idul Adha yang mulia,

Mengawali kegiatan kita di pagi yang mulia ini, tiada kata yang pantas kita sanjungkan kecuali memanjatkan puji syukur dan sembah sujud taat setia kepada Zat yang Maha dari segala maha, Maha Pengasih tak pilih kasih, Maha Penyayang terhadap hambanya yang taat tunduk patuh kepada-Nya. Yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada pagi yang mulia ini kita mampu