Oleh : Fahmi Salim, Lc, MA ( Wakil Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Ibnu Taymiah konon embahnya Wahabi kenapa dlm hal kepemimpinan ini kok mendadak jadi wahabi? Hehehe

Saya pernah kultwit di akun twitter saya meluruskan pandangan seputar pendapat Ibnu Taymiah:

1) Bismillah, saya akan kultwit singkat soal pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah yg berikut ini smg berkenan » pic.twitter.com/B3cTrQ94uZ

2) Kutipan Ibnu Taymiah tsb kerap jd alat legitimasi pencalonan/dukungan kpd pemimpin nonmuslim di negara muslim » pic.twitter.com/gAEJhTkHEr

3) Bahkan oleh pembenci ‘wahabi’, kerap dikutip jg olh tokoh2 liberalis utk legitimasi yuridis bg nonmuslim. Dlm soal ini mendadak wahabi 🙂

4) Statemen syaikh ini disalahpahami keluar dr konteksnya. Satu, krn diungkapkan yurwa / yuqolu, itu artinya tdk pasti pndgn beliau.

5) Dua, konteksnya adlh penekanan fadilah keadilan sbg pilar kekuasaan, dan dampak buruk kezaliman. Aplg babnya ttg hisbah (yudikatif).

6) Jd konteksnya penegakan hukum yg adil, bukan pengangkatan imam/pemimpin umat. Jelas beda bab hisbah dg bab imamah berikut syaratnya.

7) Tiga, mustahil tokoh yg dikenal ketat memahami nash2 syar’ie aplg qoth’I dlm syarat imamah gegabah. Besar kmgknn itu bkn pandgn yuridis.

8) Empat, tersebab bukan pandangan yuridis dlm soal imamah mk tak relevan mencocokkan teks hisbah utk imamah, krn syarat Islam mutlak.

9) Lbh tepatnya statemen Ibnu Taimiyah sebatas penggugah spirit elan vital tegaknya keadilan hukum.

10) Jika mau teliti dlm teks itu tak ada petunjuk tersurat dan tersirat, bhw bliau tegaskan kafir boleh jd pemimpin umat islam.

11) Statemen teks itu lbh tepat sbg perbandingan negara muslim dg negara kafir. Bhw yg akan tegak kokoh antara keduanya adlh yg berkeadilan.

12) Negara islam yg sistem yudikasinya zalim akan hancur, smtr negara kafir yg sistem yudikasinya adil akan tegak kuat. Itu pesan beliau

13) Simpulan: teks Ibn Taymiah tak relevan & tak sepadan utk legitimasi pemimpin eksekutif kafir di tengah umat Islam. Semoga bermanfaat