RAMADHAN DAN KEMERDEKAAN

Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
 

‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan al-fath (pembukaan), dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.  Q.S. al-Nashr/110: 1-3.

 

Bagi umat Islam di Indonesia, Ramadhan tahun ini menjadi istimewa. Hal itu karena peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, 17 Agustus 2012 terjadi di bulan Ramadhan 1433 H, sebagaimana kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 itu diproklamirkan di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan rahmah (kasih sayang). Allah memberikan kasih sayangnya yang tak terhingga, termasuk dalam konteks kebangsaan adalah rahmah kemerdekaan. Betapa kasih sayang Allah itu diberikan kepada bangsa Indonesia, yang dulu tertindas, terjajah, berada dalam dominasi pihak asing, lantas terbebaskan dari belenggu penjajahan itu. Sebuah kemerdekaan yang harus disyukuri.

Berkat perjuang pada pendahulu, bangsa Indonesia merdeka dari para penjajah. Kobaran api jihad, sebuah cita-cita membuahkan hasil. Gemuruh takbir, Allâhu Akbar, mengusir habis orang-orang yang mengeksploitir potensi Indonesia. Dalam puasa Ramadhan, ada semangat kobaran jihad itu. Kemauan keras menahan lapar adalah jihad. Kemauan keras menahan haus adalah jihad. Kemauan menahan hawa nafsu adalah jihad. Lebih dari itu, kerelaan membagi yang dimiliki, baik makanan, minuman, harta, ilmu, dan kekuasaan, untuk kepentingan orang banyak, adalah jihad. Bila shiyâm (puasa) diikuti dengan jihad, maka yang tumbuh adalah rahmah (kasih sayang) yang disebarkan kepada sesama manusia. Rahmat yang meluas akan mewujudkan kedamaian, ketenangan, keamanan, ketentraman, dan kesejahteraan. Bila itu yang terjadi, maka sesungguhnya kemerdekaan hakiki telah kita dapatkan.

Pembebasan dari Belenggu Otoritarianisme

Surat al-Nashr turun setelah Rasulullah Saw. dan para shahabat berhasil membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy. Lebih kurang sepuluh tahun Rasulullah dan para shahabat setianya meninggalkan kota tersebut berhijrah ke Madinah. Pengaruh Rasulullah di Madinah semakin kuat sehingga ketika datang membebaskan kota Makkah, tidak ada perlawanan berarti dari penguasa Quraisy. Kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Kemenangan kaum muslimin adalah kemenangan semua penduduk Makkah dan Madinah. Pembebasan kota Makkah adalah kemerdekaan dari segenap penindasan, dominasi, dan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan itu adalah pertolongan Allah untuk umat manusia agar mereka bersyukur kepada-Nya.

Yang menarik dalam surat al-Nashr itu adalah bahwa untuk menunjuk kepada makna kemerdekaan tidak digunakan kata al-istiqlâl, tidak juga al-tahrîr untuk makna pembebasan, atau al-ghalabah untuk makna kemenangan, tapi kata yang digunakan adalah al-fath (pembukaan, dari kata fataha- yaftahu, membuka). Hal itu karena memang kedatangan Rasulullah ke kota Makkah itu hanya untuk membuka sesuatu yang selama ini tertutup. Rasulullah datang tidak untuk menguasai, menjajah atau mengeksploitasi. Rasulullah datang untuk membuka tabir kebodohan dan kemiskinan, membuka buhul keyakinan, kemusyrikan dan tradisi, adat istiadat yang mengikat, membuka dominasi kekuasaan yang tiran, membuka kesewenang-wenangan yang membelenggu, dan mengurai problema kehidupan masyarakat yang terus menghimpit. Itulah maka Islam bukan agama yang menindas, memaksa, mendominasi, menjajah dan mengeksploitasi. Islam adalah agama yang membuka pikiran dan hati agar menerima kebenaran sejati. Islam menyuruh umatnya agar bersikap dinamis, terbuka dan menerima perubahan. Islam menolak sikap statis, eksklusif, tertutup, dan jumud. Kemerdekaan dalam Islam dimaknai sebagai kemampuan membuka diri dan membebaskannya dari otoritarianisme dan sikap-sikap statis, eksklusif, tertutup, dan jumud itu.

Kemerdekaan Berbasis Ketundukan
Kemerdekaan dalam Islam selalu berdasar pada ketundukan kepada Allah, karena sesungguhnya kemerdekaan yang didapat itu sesungguhnya adalah pertolongan Allah. Maka tidak sepatutnya kemerdekaan itu dikuti dengan kesombongan. Tidak selayaknya kebebabasan dan kemenangan yang kita raih itu menjadikan kita sombong dan congkak. Tanpa pertolongan Allah, kota Makkah tidak akan terbebaskan. Tanpa pertolongan dari Allah, Indonesia tidak akan merdeka. Tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan bebas merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterpurukan. Maka bila kini kita telah merdeka, pikiran telah tercerahkan sehingga menjadi orang-orang yang tercerahkan, terbebaskan dari kemiskinan yang melilit, maka tidak sepatutnya kita menyombongkan diri merasa bahwa kemenangan itu semata karena kemampuan kita.

Kemerdekaan itu harus berbasis pada ketundukan yang disimbolkan dengan kedekatan kita kepada masjid. Itulah maka persis setelah fath Makkah (pembebabasan kota Mekkah), Rasulullah memaklumkan kepada masyarakat bahwa jaminan keamanan didapat ketika masuk Masjid Haram. “Barangsiapa yang masuk Masjid Haram, maka akan mendapatkan keamanan” (Q.S. Ali Imran/3: 97). Masjid menjadi simbol bagi terciptanya keamanan, kesejukan, kedamaian. Kondisi seperti itu adalah cita-cita yang diharapkan dalam meraih sebuah kemerdekaan.

Di dalam masjid (kata masjid itu sendiri berarti tempat sujud, tunduk menyerahkan diri), kita sujud, tunduk, mengkuduskan, dan merendahkan diri kepada Allah, yang dalam praktik ibadah dilambangkan dengan menempelkan wajah, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki ke atas permukaan bumi. Penamaan tempat kegiatan pengabdian kepada Allah dengan masjid (tempat sujud), pasti mempunyai misi tertentu yang lebih dari sekedar menempelkan wajah di atas bumi. Tempat itu tidak dinamai marka’ (tempat ruku’), meskipun dalam shalat seseorang juga melakukan ruku’, atau mushallâ (tempat shalat) meskipun kenyataannya tempat itu digunakan untuk melakukan shalat lima waktu. Tapi tempat itu dinamakan masjid (tempat sujud). Maka dapat dipahami bahwa masjid dimaksudkan sebagai tempat berbagai aktivitas yang secara keseluruhan mengarah dan dalam rangka pengabdian (ibâdah) kepada Allah, dalam arti seluas-luasnya, dengan penuh ketundukan, kekudusan, kepasrahan, kepatuhan, dan ketaatan kepada-Nya. (Q.S. al-Nur/24: 36-38). Oleh karena itu mestinya masjid tidak dimarjinalkan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah dalam arti sempit, seperti misalnya hanya sebagai tempat shalat dan khutbah.

Dalam pengertian khusus, masjid yang dimaksudkan adalah bangunan khusus yang di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan yang meliputi kegiatan yang berhubungan dengan Allah (habl min Allâh) dan yang berhubungan dengan manusia (habl min al-nâs) yang secara keseluruhan dilakukan dalam rangka tunduk dan patuh dalam pengabdian kepada Allah. Masjid menjadi titik pusat bagi pengaturan tata ruang lingkungan kehidupan umat Islam, dari titik pusat itu kemudian diikuti dengan unit-unit spasial lain, seperti sarana pendidikan, kesehatan, perbankan, pasar, perkantoran, perumahan dan lain sebagainya. Lingkungan kehidupan yang berpusat pada masjid itu, menurut al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam, bersumber pada paradigma tauhid (tauhidic paradigm) tentang kesatuan kehidupan yang berasal dari Yang Esa (Allah). Sebagaimana yang tergambar dalam tauhidic paradigm, maka seluruh kehidupan bersumber dari Yang Esa dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya dalam tauhidic paradigm, tidak ada pemisahan antara yang sakral dan yang profan, dimana dimensi ruhani dan materi terintegrasi menjadi satu, dan pola kehidupan duniawi setiap muslim adalah pancaran dari cahaya keimanannya. Maka kemerdekaan tidak hanya dimaknai kebebasan secara materi tapi harus dimaknai sebagai kemerdekaan jasmani dan ruhani.

Kemerdekaan tanpa nilai ketundukan akan menghasilkan pembangunan sekularistik, materialistik, dan hedonistik. Kemerdekaan akhirnya hanya dinilai sejauh mana secara duniawi, materi, sebuah kesenangan itu dapat dicapai. Kemerdekaan akan menjadi gersang dan tidak memiliki jiwa dan jati diri yang kokoh. Pembangunan menjadi labil, mudah tumbang, dan ambruk. Sejarah telah membuktikan, betapa sebuah bangsa yang kuat, kemajuan pada puncak keemasannya, akhirnya hancur lebur karena jiwa ketundukan sudah mati.

Kemerdekaan Mewujudkan Rahmah dan Kedamaian
Sebagaimana suasana dalam masjid yang penuh aman, damai, tunduk pasrah kepada Allah. Maka demikian pula gambaran sebuah kemerdekaan yang diraih. Kemerdekaan itu seharusnya menimbulkan suasana rahmah (kasih sayang), rasa aman dan damai. Kemerdekaan tidak menimbulkan kekacauan. Kemerdekaan tidak mendatangkan kerusakan. Bila di dalam masjid, seseorang melakukan shalat, berzikir, doa, membaca al-Quran, mengadakan kajian keislaman, dalam pengabdian (al-ibâdah) kepada Allah, kemudian mendapatkan kenikmatan iman (halâwah al-îmân), sehingga hatinya tenteram, pikirannya jernih, maka itulah sejatinya kemerdekaan. Hati dan pikiran merdeka dari kotoran-kotoran yang membelenggu. Itulah maka komitmen seorang mukmin sejak memulai sebuah pekerjaan adalah membebaskan niat hanya untuk Allah, bismillâhi al-Rahmân al-Rahîm (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Merdeka dari tujuan-tujuan kotor: “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Q.S. al-An’âm/6: 162.

Shalat yang didirikan di masjid membawa pada suasana ketentraman dan kedamaian batin. Perintah menegakkan shalat tidak sekedar menjalaninya saja. Tapi menegakkannya dengan sempurna karena kesadaran akan tujuannya, dengan membawa berbagai dampak nyata. Dampak shalat dan hasil tujuannya itu antara lain, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang kotor dan keji” (Q.S. al-Ankabût/29: 45). Juga: “Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya” (QS. al-Ma’arij/70:19-23).

Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang menjalankan shalat hanya dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan tertentu namun melupakan makna ibadat itu dan hikmah rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia berupa pembersihan dan pensucian kepribadian, pendidikan kejiwaan dan peningkatan budi. Allah berfirman: “Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lalai akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan.” (Q.S. al-Mâ’ûn/107: 4-7).

Demikian pula ibadah puasa di bulan Ramadhan memberikan ketenangan dan kedamaian. Betapa orang yang berpuasa mampu bertahan dari godaan-godaan nafsu makan, minum dan seks. Jiwanya sejuk dan damai, tidak digerogoti oleh keinginan-keinginan yang tak terhingga. Orang yang berpuasa membagikan makanan, minuman, harta benda dan kekayaannya untuk orang lain. Orang yang berpuasa menebar rasa kasih sayang kepada sesama.

Kemerdekaan Mewujudkan Solidaritas

Nilai spiritualitas yang tergambar dalam shalat seorang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S. al-Ankabût/29: 45 di atas, menunjukkan bahwa shalat itu memiliki pengaruh sosial. Oleh karena itu shalat seorang muslim harus mempunyai dampak sosial. Shalat tidak hanya berdampak pada pribadi orang yang melaksanakan, tapi memiliki pengaruh bagi kebaikan masyarakat. Disebutkan dalam al-Quran:
“Setiap pribadi bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Kecuali golongan kanan. Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya, tentang nasib orang-orang yang berdosa: “Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?”. Sahut mereka, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat. Dan tidak pula kami pernah memberi makan orang-orang melarat. Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena. Dan kami dustakan adanya hari pembalasan. Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati).” (QS. al-Muddatstsir/74:38-47).

Hancurnya bangsa ini adalah karena sikap egois. Solidaritas telah menipis bahkan nyaris lenyap. Hubungan antara sesama anak bangsa selalu saja karena perhitungan untung rugi, bukan karena kemaslahatan. Yang jatuh tidak diangkat, malah ditendang. Yang lemah tidak diberdayakan malah diinjak. Yang bodoh tidak diajari, malah dimaki-maki. Yang kelaparan tidak diberi makan, malah dieksploitasi. Yang miskin dan lemah dijadikan obyek menumpuk kekayaan pribadi.

Kita telah merdeka dari penjajahan namun belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan kesewenang-wenangan. Kita masih harus banyak berjuang, merebut kemerdekaan yang hakiki. Kita perlu menyingkirkan sikap egois sehingga dengan senang hati berbagi, memberi dan menyantuni. Bakhil, pelit, dan kikir bukan solusi sukses hidup, tapi justru akan membawa petaka dan sengsara. Allah pasti melipatgandakan pahala bagi siapa yang mau berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Cintanya kepada orang lain menyebabkan hatinya kaya dan terbuka untuk memberikan infaq sedekahnya kepada orang lain. Hati yang terbuka itu adalah hati yang penuh cahaya terang yang terus menyinari dirinya dalam kehidupan di dunia dan di akherat.

Bulan Ramadhan ini, mestinya kita syukuri kemerdekaan yang kita raih dengan kembali kepada semangat masjid, yaitu semangat sujud, tunduk patuh kepada Allah. Kita ambil semangat puasa yang mengajarkan untuk menebarkan kasih sayang dan kedamaian lahir dan batin, serta mengedepankan tanggung jawab sosial dengan banyak membagi kepada sesama. Kemerdekaan menghancurkan sikap egoisme. Kemerdekaan menebarkan rahmah dan kedamaian, sejalan dengan Islam sebagai agama rahmah (kasih sayang) dan salâm (damai). #[Majalah Tabligh edisi Ramadhan – Syawal 1433 H]

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>