Tabligh Online

Mendakwahkan Tauhid, Mengawal Tajdid

Prinsip Gerak dan Cita-Cita Perjuangan Muhammadiyah

Published on Jun 04 2012 // Gerakan, Syarah Ideologi

Kajian Muqaddimah AD Muhammadiyah (Bag IV Terakhir):

Prinsip Gerak dan Cita-Cita Perjuangan Muhammadiyah

 

Dr. H. Syamsul Hidayat, M.Ag

Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

 

 

Sebagai naskah ideologis, muqaddimah Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah memuat prinsip-prinsip gerakan Muhammadiyah, yang wajib diperhatikan dan diaktualisasikan oleh pimpinan, anggota dan warga Muhammadiyah dalam berkiprah di dalamnya. Dengan berpegang teguh pada prinsip gerakan yang diyakini, maka Muhammadiyah secara bersama-sama dapat mencapai cita-cita dan perjuangan Muhammadiyah.

Prinsip-prinsip perjuangan yang tertuang dalam muqaddimah AD sebagai refleksi atas pemikiran dan perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang selalu dipelajari, diinternalisasi dan diaktualisasikan oleh semua warga Muhammadiyah akan memperkokoh identitas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam. Sebagaimana dikemukakan dalam kajian-kajian sebelumnya, bahwa muqqadimah AD ini memuat tujuh pokok pikiran yang merupakan prinsip-prinsip dan cita-cita perjuangan Muhammadiyah.

 

Landasan Perjuangan Muhammadiyah

Prinsip perjuangan Muhammadiyah diawali dengan paradigma tauhidullah. Bahwa perjuangan Muhammadiyah senantiasa bertumpu pada ajaran tauhid, baik dalam keyakinan, ucapan maupun tindakan dalam setiap individu anggota Muhammadiyah, dan dalam amal jama’iy (tindakan kelompok).  Kemurnian tauhid, yang bersih dari segala bentuk penyekutuan (syirk) kepada Allah, diyakini akan membimbing setiap amal fardiy (tindakan individu) dan amal jama’iy (tindakan kolektif). Bagi Muhammadiyah prinsip tauhid tidak bisa ditawar-tawar.

Itulah sebabnya Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pemurnian (purifikasi), bahkan ada yang memandang Muhammadiyah identik dengan gerakan Wahabi (yang dimaksud adalah dakwah salafiyah yang dipelopori Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bukan dakwah khawarij ala Wahab Rostum, yang konon menebarkan kekerasan kepada sesama muslim). Memang sebutan Wahabi sebenarnya diberikan oleh mereka yang berlawanan dengan dakwah pemurnian dan pemberantasan Takhayul, Bid’ah dan Churafat (TBC), agar orang mengira dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sama dengan Wahab Rostum yang bengis terhadap mereka yang berbeda.

Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang sangat getol dalam menegakkan tauhid dan memberantas segala bentuk kemusyrikan, telah berjasa membawa umat Islam untuk senantiasa berkomitmen kepada Qur’an-Sunnah. Mendorong terjadinya ijtihad dan menekan kecenderungan taklid buta. Nurcholish Madjid, seorang intelektual muslim yang dipandang sebagai pelopor liberalisasi pemikiran Islam, menyatakan secara obyektif, bahwa seandainya tidak ada tokoh seperti Muhammad bin Abdul Wahhab, sungguh kemusyrikan dan kebid’ahan akan tumbuh subur di negeri Arab Saudi. Menurut Nurcholish bahwa di Indonesia gerakan yang cukup berjasa dalam memurnikan pemahaman dan pengamalan Islam adalah Muhammadiyah yang memiliki unsur-unsur kesamaan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Demikian juga pengakuan Harun Nasution.

Tentu menyamakan gerakan Muhammadiyah dan gerakan Wahhabi tidak bisa serta merta begitu saja. Karena tantangan dan perjalanan waktu yang berbeda, sudah barang tentu banyak perbedaan metodologis meskipun substansi sama, yakni mendakwah Islam yang bersumber kepada Qur’an dan Sunnah serta memurnikannya dari segala bentuk TBC yang menjangkiti umat Islam.

Prinsip selanjutnya dalam konteks keagamaan adalah bahwa Muhammadiyah hanya meyakini Islam adalah satu-satunya agama Allah yang akan menjamin kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, dengan kewajiban menegakkan dan menjunjung tinggi syariat Allah, di atas hukum-hukum yang lainnya. Dalam menegakkan dan menjunjung tinggi syariat Allah tidak ada cara lain, kecuali dengan ittiba’ Rasulullah.  Artinya, pemahaman dan pengamalan syariat Islam harus selalu mengacu kepada ajaran Rasulullah Saw, tidak menambahi dan mengurangi, tidak melakukan ifrat, yakni melebih-lebihkan dalam beragama (ghuluw), tetapi juga tidak tafrit (meremehkan, melalaikan bahkan menentang ajaran agama).

Prinsip ini tetap dipegang teguh oleh Muhammadiyah meskipun sering dituduh kering dalam beragama. Muhammadiyah tidak mengeringkan agama, karena hanya mengikuti Qur’an dan Sunnah. Muhammadiyah tidak mau berbasah-basah dengan bid’ah, berbasah-basah dengan syirk, takhayul dan khurafat. Anggapan kering kepada gerakan pemurnian Islam, berarti tidak puas terhadap ajaran agama yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Kalau beragama mencari kepuasan diri, maka hawa nafsu syaithaniyah yang akan berbicara, sehingga manusia akan semakin jauh berbasah-basah, hingga basah kuyup bahkan tenggelam dalam TBC, karena dikemas dengan kemasan menarik. Namun, bila ridha Allah yang dicari pasti Allah akan memberikan kepuasan dan ketenangan jiwa dalam menjalani agama.

Prinsip yang lain yang tidak pernah ditinggalkan oleh Muhammadiyah adalah aktif dan proaktif membina masyarakat, dengan senantiasa melihat potensi yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, agar dakwah Islam dapat diterima oleh semua lapisan umat. Pembinaan masyarakat meskipun memperhatikan dan menyesuaikan dengan potensi masyarakat termasuk potensi budaya dan norma sosial lainnya, Muhammadiyah menerapkan sistem organisasi yang tertib. Tertib organisasi, baik dalam sistem manajemen dan kepemimpinan, sistem administrasi ketatausahaan, sistem administrasi keuangan merupakan pesan ajaran Islam, yang termaktub dalam Al Qur’an dan al-Sunnah.

 

Cita-cita Perjuangan: Dunia-Akhirat

Demikian prinsip-prinsip perjuangan Muhammadiyah, yang semua itu dijalani dalam rangka menggapai cita-cita dan tujuannya. Dengan berpegang teguh pada prinsip perjuangannya, Muhammadiyah bercita-cita untuk dapat menghantarkan umat ini membangun negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang indah, adil makmur dan sejahtera di bawah naungan Allah yang Maha Pengampun. Sekaligus  menuju pintu gerbang jannatun na’im, dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Negeri baldatun thayyibah, artinya negara-bangsa yang memiliki tatanan indah, yang mampu menjaga dan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah berupa ketaatan menjalankan agamanya baik secara individu maupun kolektif. Artinya, nilai-nilai agama yang memang selama ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam terciptanya falsafah dan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila benar-benar hidup dan tegak dalam setiap jiwa anak bangsa serta mewarnai dan menafasi setiap peraturan perundangan negara bangsa ini. Sehingga negeri ini senantiasa dalam ridha dan naungan Allah, Rabb yang Maha Pengampun. Artinya, kalau ada kesalahan dan kekhilafan yang menimpa pemimpin dan rakyat segera mendapatkan bimbingan dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah cita-cita dunia.

Tentu cita-cita perjuangan Muhammadiyah tidak berhenti di situ. Pembinaan jiwa dan masyarakat secara individu dan jamaah untuk tetap istiqamah di jalan Allah, dengan segala misi dan gerak dakwahnya, Muhammadiyah memiliki visi yang sangat-sangat jauh, yakni menghantarkan seluruh umat yang bernaung di bawahnya, baik anggota maupun mereka yang bersimpati dengan perjuangan Muhammadiyah, untuk dapat meniti jalan menuju pintu syurga jannatun na’im. Hadanallah wa iyyakum ajma’in.  [ ]

Popularity: 23% [?]

1 Comment

Leave a comment

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!