Muhammadiyah dan Majelis Tafsir Al-Quran

MUHAMMADIYAH DAN MAJELIS TAFSIR AL-QURAN

Ta’awun, Tasamuh dan Fastabiqul Khairat

 

Syamsul Hidayat

(Dosen FAI UMS, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

 

 

Ada beberapa pertanyaan yang datang kepada Majelis Tabligh, mengenai hubungan Muhammadiyah dengan Majelis Tafsir Al-Quran (MTA). Dari Papua menanyakan apakah MTA itu bagian dari kegiatan Muhammadiyah di Solo? Dari Magetan dan Ngawi, mengeluhkan banyaknya anggota Muhammadiyah yang “hengkang” ke MTA, karena paham MTA sama dengan Muhammadiyah, tetapi yang menarik MTA lebih tegas dan konsisten. Demikian juga pertanyaan dari Muko-muko Bengkulu.

Pertanyaan seperti saudara dari Papua bisa dikatakan wajar karena oleh Ustadz Ahmad Sukina, Ketua Umum Yayasan MTA, Prof Din Syamsuddin dalam kapasitasnya sebagai Sekjen MUI (waktu itu) diangkat sebagai penasehat MTA dan beliau (Prof Din) sempat mengikuti pembukaan Cabang MTA di suatu daerah. Pernah juga Prof Din diminta untuk menjadi Imam dan Khatib shalat Id di jamaah MTA. Syukur, waktu itu hari Idul Fitrinya sama dengan Muhammadiyah. Biasanya MTA untuk Idul Fitri selalu “nderek” Penguasa, tetapi untuk Idul Adha ikut Arab Saudi. Ini beda dengan Muhammadiyah yang menetapkan hari Idul Fitri dan Idul Adha berdasar hasil hisab dengan kriteria wujudul hilal.

Kalau dilihat dari segi pemahaman Aqidah dan akhlak, tampaknya antara Muhammadiyah dan MTA memiliki banyak kesamaan, yaitu berpahamkan pemurnian dari segala bentuk TBC (Takhayul Bid’ah dan Churafat) dan SEPILIS (sekularisme, pluralisme dan liberalisme). Yang membedakan adalah dalam metode penyampaian dakwahnya. MTA mengambil jalan tegas dan keras, sedangkan Muhammadiyah mengambil jalan santun, menjaga toleransi, tetapi tetap pegang prinsip. Ketika ada kesamaan dan kemiripan, selayaknya kita bisa bermitra untuk mendakwah aqidah dan akhlak shahihah. Kemitraan ini tentunya dijalankan dengan proporsional, saling asah dan asuh, sehingga terdapat simbiosis mutualisme.

Sementara itu dalam pemahaman fiqhiyyah, Muhammadiyah terbiasa membahas masalah ini selalu disertai dalil dengan istidlal dan istinbatnya seperti yang dilakukan oleh Tim Fatwa Majelis Tarjih sebagaimana dimuat di majalah Suara Muhammadiyah. Sementara di MTA banyak sekali fatwa atau jawaban masalah fiqhiyah yang tidak dirujukkan kepada dalil tertentu. Misalnya dalam Tanya Jawab dengan Ustadz Sukina sebagai berikut:

TANYA: “Ustadz puasa tiga hari setiap bulan apakah harus dilakukan pada tanggal 13, 14, 15? Kalau pada hari itu berhalangan apakah bisa dilakukan pada hari yang lain?”

JAWAB: “Memang hadistnya mengatakan bahwa puasa putih itu dilaksanakan pada tanggal 13, 14, 15. Jadi kalau mau melaksanakan ya kita laksanakan pada tanggal itu saja. Kalau mau berpuasa pada hari yang lain, kita niatkan saja untuk puasa yang lain. Misalnya bila jatuh pada hari senin dan kamis, maka kita niatkan untuk puasa senin kamis”

Contoh lainnya:

TANYA: Ustadz walimah syukuran itu apakah dibenarkan oleh agama?

JAWAB: “Walimah yang ada adalah walimah pernikahan, tetapi kalau walimah syukuran karena kenaikan pangkat atau yang semacamnya itu hanyalah wujud pemborosan. Karena syukur yang sebenarnya kepada Allah adalah pujian kepada Allah dan memanfaatkan apa yang dikaruniakan dengan sebaik-baiknya.”

Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa secara substansi mungkin jawaban cenderung benar, tetapi kurang memberi pencerahan kepada jamaah karena tidak disertai dalil-dalil yang relevan dengan istidlal dan istinbat yang akurat. Di samping itu jawaban dilakukan oleh seorang Ketua Umum, Ustadz Ahmad Sukina. Dapat dipahami bahwa peran Ketua Umum sangat dominan, sehingga ketaatan terhadap Ketua Umum sangat tinggi, sehingga kepemimpin bersifat sentralistik.

Bandingkan dengan tanya-jawab dengan Majelis Tarjih di Suara Muhammadiyah, jawaban disusun berdasarkan musyawarah (ijtihad jama’i), dengan menyertakan dalil-dalil dan cara istidlal dan istinbatnya. Dari mekanisme memberikan jawaban menunjukkan bahwa kepemimpinan bersifat ta’awun jama’i, tidak terpusat kepada Ketua Umum. Kepemimpinan berdasarkan pendelegasian yang mantap.

Dari persamaan dan perbedaan tersebut sudah semestinya terbangun ukhuwwah Islamiyah di kalangan  Muhammadiyah, khususnya dan umat serta bangsa pada umumnya.

Menyikapi persamaan, perbedaan yang perlu dilakukan adalah ta’awun (kersajama), tasamuh (menghormati dan saling menghargai perbedaan), dan akhirnya adalah Fastabiqul Khairat (kompetisi secara sehat). [ ]


You may also like...

11 Responses

  1. billy says:

    ngapain harus pake’ tasamuh segala… itu kan lebel orang lain… Fastabiq al khairat dan ta’awun aja kan cukup, dengan MTA harap maklum,.. kan butuh jati diri… agar kelihatan lain dari pendahulunya.

  2. Suprio says:

    Saya salut dengan Muhamadiyah. Meskipun berbeda tapi tetap menghormati dan menjaga ukuwah

  3. munir says:

    perbedaan itu boleh-boleh sj yg terpenting ada jangan mengaku yg serba paling, karena yg paling itu hanya alloh sj…

    terus boleh beda tetapi silaturahmi tetep yg terjaga satu sama lain…karen perbedaan itu bukan rahmad tetapi jika dikembalikan kepada quran dan sunnah maka masih terjalin silaturahmi yg kuat dan saling menghargai.

  4. Mario says:

    Jangan salah mendikte bahwa MTA tidak santun. Tegas didasari Al quran dan Hadist itu wajib bagi umat Islam dalam urusan ibadah dan MTA tetap santun dalam urusan dunia. Mengenai kesamaan aqidah wong sama2 Islam koq. Pimpinan MTA ustadz Ahmad Sukino orangnya lues mau menerima kritik dan saran yang lurus.

  5. yudo says:

    Antara Muhammadiyah dengan MTA adalah sama2 bertujuan dakwah yang benar menurut ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.. sehingga tidak ada yang perlu dipermasalahkan, sesama orang muslim adalah ibarat satu tubuh..

  6. Sabir says:

    Muhammadiyah is the best

  7. masson says:

    Sabir :
    No..no…no…
    Muhammadiyah is not the best
    MTA is not the best
    All of Islam Organization is not the best.

    ISLAM IS THE BEST.

  8. muzaki says:

    “Kutitipkan Muhammadiyah padamu……”
    K.H. Ahamad dahlan

    mati kitA hidup hidupi Muhammadiyah, jangan mencari hidup di muhammadiyah.

    http://www.sangpencerah.com/2013/10/pesan-pesan-khahmad-dahlan.html?m=1

  9. Mta dan MMUHAMMADIYAH is okey….. kalau yang lain i don’t know, because nyat da’wah nya sama, ya ketemunya sama, ingin berantas TBC (TAQLID, BID’AH, CHUROFAT ) dan cita -citanya sama BALDATUN THOYIBATUN WAROBBUN GHOFUURUN) tidak ikut mbah mbah ku dulu, dan ALHAMDULILLAh0H Atas ridlo ALLOH SWT sampai sekarang makin besar organisasi KEDUANYA, AMI…N, YANG LAIN DAH MULAI TERSINGKIR DAN DITINGGALKAN PELAN-PELAN, ALHAMDULILLAH, JADI DA’WAH YANG DILANDASI PADA ALQU’AN DAN SUNNAH ROSUL ITU YANG AKAN BERTAHAN LAMA , KEBATILAN AKAN LENYAP DAN YANG HAQ AKAL DIRIDLOI ALLOH SWT, AMIN 3X.

  10. abbaz says:

    apa yang dilaksanakan Muhammadiyah sebagai sesama lembaga dakwah sangat bagus bahkan bisa membimbing jalan dakwah MTA, karena Muhammadiyah sudah lebih senior dan berpengalaman di Indonesia

  11. sutrisno says:

    saya mengkritisi sdr muzaki,katanya;kutitipkan muhammadiyah padamu.K.H.Ahmad dahlan.Kalau ini do,a,INI ADALAH do’a mengandung kesirikan,berdo’alah kamu hanya kepada Allah,jangan selain-Nya,dan tidak usah titip-titipan nanti ndak kesasar.UDNGUUNI ASTAJIB LAKUM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>