Hosting Unlimited Indonesia

[Khutbah Idul Adha] Makna Ibadah Qurban

Agus Tri Sundani

(Koordinator Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin jama’ah ‘Idul Adha yang mulia,

Mengawali kegiatan kita di pagi yang mulia ini, tiada kata yang pantas kita sanjungkan kecuali memanjatkan puji syukur dan sembah sujud taat setia kepada Zat yang Maha dari segala maha, Maha Pengasih tak pilih kasih, Maha Penyayang terhadap hambanya yang taat tunduk patuh kepada-Nya. Yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada pagi yang mulia ini kita mampu menggemakan Takbir, Tahmid dan Tahlil.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada seorang pemimpin yang rela berqurban jiwa, harta dan dirinya untuk mengangkat harkat dan martabat umatnya dari lumpur kejahilan, keterbelakangan menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, adil makmur dan diridhai Allah Swt. Beliaulah Rasulullah Muhammad Saw.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Saudaraku hamba Allah yang terhormat,

Merayakan ‘Idul Adha, mengingatkan kita akan peristiwa dan kisah penting yang syarat makna dalam kehidupan umat manusia. Yakni peristiwa perjalanan hidup baginda Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar, bersama putranya  Isma’il a.s.

Dari tahun ke tahun silih berganti, sejarah ‘Idul Adha, pengorbanan, dan haji disegarkan kembali agar semangat berkurban senantiasa berkobar dalam dada kita semua. Hampir-hampir tidak ada seorang pun dari kita yang tidak mengetahui sejarah ‘Idul Adha. Maka pada kesempatan yang mulia ini saya mengajak diri dan saudara sekalian untuk merenungkan kembali perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya, bukan sebagai cerita-cerita belaka, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam rangka meluruskan niat dan motivasi serta memperbesar tekad untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Lebih- lebih di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang hingga kini masih dihantui berbagai persoalan yang terasa sangat sulit untuk menghadapi dan mengatasinya, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, aqidah, moral, hukum, pertahanan dan keamanan. Yang semua itu terjadi karena adanya kesenjangan yang begitu besar antara pengakuan kita sebagai Muslim dengan realitas kehidupan yang kita jalani.

Melalui sejarah ‘Idul Adha kita dibawa untuk melihat kekuatan iman ketika ia harus menjawab realitas kehidupan, menjawab kenyataan hidup yang harus dihadapi.

Sebagai seorang pejuang, Nabi Ibrahim merasa sedih, resah dan gelisah, karena pada usianya yang telah senja belum dikaruniai seorang anak yang akan mewarisi dan melanjutkan cita-cita dan perjuanganya. Meskipun demikian Nabi Ibrahim tidak kenal putus asa. Bahkan beliau selalu berdo’a,

“Ya Tuhanku karuniakan kepadaku seorang anak yang shaleh.” (Q.S. As Shaffat : 10 )

Yang diminta Nabi Ibrahim bukan anak sembarang anak. Tetapi anak yang sesuai dengan cita-cita dan perjuangannya, yakni anak yang shaleh, anak yang mempunyai kepribadian sebagai manusia berakhlaq, beriman dan bertaqwa pada Allah Swt.

Sejarah mengungkapkan misteri yang luar biasa. Nabi Ibrahim yang telah berusia senja akhirnya dikabulkan do’anya oleh Allah Swt. Melalui Siti Hajar, istri keduanya, Nabi Ibrahim a.s. dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail, si buah hati sibiran tulang. Akan tetapi, belum lagi Ismail tumbuh dewasa, keimanan Nabi Ibrahim kembali diuji Allah Swt. Melalui mimpi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terlintas dalam pikirannya, Ismail yang dibayangkan sebagai penerus perjuangannya, harus berakhir di ujung pedangnya sendiri. Orang tua manakah yang sanggup membayangkan tugas semacam itu?

Di sinilah iman dan ketulusan dihadapkan dengan realitas pilihan antara hati dan akal, antara cinta pada Allah dengan cinta pada anak. Nabi Ibrahim sempat mengalami kebimbangan antara cinta dan kebenaran. Dan akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan kebenaran serta cinta pada Allah daripada kecintaannya kepada anak satu-satunya yang dimiliki. Nabi Ibrahim meyakini dan menyadari bahwa semua miliknya pada hakikatnya adalah milik Allah dan pemberian Allah. Bila dikehendaki, Allah berhak meminta kembali seluruh milik-Nya, baik itu di langit dan di bumi. Namun demikian, Nabi Ibrahim menempuh dengan cara-cara yang arif dan bijaksana, Ismail putra kesayangannya dipanggil untuk diperkenalkan pada hakikat hidup, cinta dan kebenaran. Dan Ismail mampu menangkap kegalauan hati ayahnya. Kepada ayahnya, Ismail memilih kata yang tepat dalam menyatakan pendapat, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. As Shaaffat : 102)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin hamba Allah yang terhormat,

Ketika kedua insan itu dengan ikhlas menjalankan perintah Allah dan pisau pun nyaris menggores leher Ismail, tiba-tiba terdengar suara dari lembah memanggil Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.  Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”  ( Q.S. As Shaaffat : 105-107)

Demikianlah Nabi Ibrahim dan Ismail a.s., membuktikan keimanan dan kecintaan serta ketaatan pada Allah, sehingga Allah menggantinya dengan kenikmatan yang tiada tara yaitu seekor sembelihan domba yang besar. Dan peristiwa inilah yang melatarbelakangi disyari’atkannya ibadah qurban yang senantiasa kita laksanakan setiap tanggal 10 sampai 13 Dzuhijjah.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Dari kisah yang disampaikan tadi, dapat kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif yang berserah diri secara total pada Allah Swt, sebagaimana Firman  Allah Swt dalam Qur’an Surat Al Imran 67, “Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, dia adalah seorang yang lurus dan muslim yang sejati dan ia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Secara lughawi, hanif berarti lurus, murni dan kokoh, seorang yang hanif adalah mereka yang lurus imannya, tidak tercampur dengan kemusyrikan dan kebatilan, imannya kokoh serta tertanam dalam hati sanubari dan setiap gerak langkah hidupnya. Seorang yang hanif adalah mereka yang tidak membantah, menawar apalagi mengingkari perintah Allah Swt, sekalipun perintah itu sangat berat untuk dilaksanakan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Hadirin yang mulia,

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat Yusuf ayat 111 yang khatib bacakan di muqadimah, bahwa kisah dan cerita dalam Alquran bukanlah dongeng belaka, akan tetapi mengandung pelajaran yang berharga serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman serta menggunakan akal pikirannya.

Seperti kisah Nabi Ibrahim, ibadah haji dan qurban. Hal tersebut bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang beraqidah benar dan  berakhlaq mulia.  Kesempurnaan ibadah dapat diraih apabila formal syariahnya terpenuhi dan tumbuhnya akhlaq sebagai wujud dari ibadah tersebut. Seperti ibadah haji dan qurban, di samping nilai-nilai spiritual, ibadah haji dan qurban juga memiliki nilai-nilai sosial, kemanusiaan yang sangat luhur. Diantaranya adalah:

Pertama, Qurban mengajarkan kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus dan serakah. Qurban mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Seseorang tidak pantas kenyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak orang disekitarnya yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Terlebih keadaan seperti sekarang ini, apalagi dengan banyaknya musibah dan bencana, mulai dari bencana alam, bencana ekonomi, politik, moral, budaya, hukum, aqidah dan lain-lain, sehingga kemiskinan muncul di mana-mana, baik miskin harta, miskin ilmu maupun miskin iman. Dan ingat! Hal itu juga dijadikan lahan subur gerakan pemurtadan untuk mencuri aqidah umat. Oleh karena itu, disyari’atkanya persyaratan hewan qurban yang begitu ketat, sesungguhnya merupakan tuntunan bagaimana agar kita bisa memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama, sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 92.

Bahkan, Rasulullah Saw juga menegaskan dalam Hadis Riwayat Bazzaar, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”

 

Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hamba Allah yang mulia.

Yang kedua, pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim a.s. adalah tentang qurban yang kemudian dilembagakan sebagai ibadah mahdhah setiap tahun bagi umat Islam. Sebagaimana dijelaskan Qur’an Surat As Shaffaat ayat 106-107, bahwa Allah Swt mengganti Ismail dengan seekor kibasy yang besar adalah sebagai balasan bagi kepatuhan, ketabahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya dalam menjalankan perintah Allah Swt. Hal tersebut melatih kita untuk rela mengurbankan apa saja demi untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, karena seorang mukmin yang mencintai Allah Swt, akan berusaha mendekati Allah dengan apa saja yang diinginkan oleh Allah “kekasihnya”, sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya.

Secara formal ritual, qurban hanya menyembelih seekor hewan sekali setahun pada setiap tanggal 10 hingga 13 dzulhijah, akan tetapi secara spiritual kita dapat menangkap maksud yang lebih luas yaitu bagaimana agar kita dapat terlatih berkurban demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Apakah itu kurban waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa sekalipun untuk memperjuangkan apa-apa yang dipesankan Allah Swt lewat agama yang diturunkannya yaitu Islam. Hikmah spiritual seperti itu akan semakin jelas, kalau kita kembali merenungkan peristiwa qurban yang dijalankan Ibrahim As dan Ismail As.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Jama’ah Idul Adha yang mulia.

Yang ketiga, secara simbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dan di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi, jika sikap dan tingkah lakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian, maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 179.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hadirin yang mulia,

Yang keempat, Qurban mengingatkan pada kita agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai harkat dan martabat kemanusiaan. Digantinya Ismail dengan seekor domba menyadarkan kita, bahwa mengorbankan manusia di atas altar adalah perbuatan yang dilarang Allah Swt. Ibadah yang kita lakukan harus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia. Bahkan hewan qurban yang akan kita sembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, kejam, mungkar, dzalim dan lain sebagainya adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Islam. Dalam pandangan Islam membunuh manusia tanpa dasar yang dibenarkan syari’at, sama kejinya dengan membunuh seluruh umat manusia, demikian yang dijelaskan Allah dalam Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 32.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hamba Allah yang terhormat.

Saat ini kita hidup dalam situasi sosial yang sangat memprihatinkan, banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, mereka menderita karena berbagai musibah dan bencana, baik itu bencana alam, politik, ekonomi, hukum, aqidah, moral dan lain sebagainya. Dan yang paling menyedihkan adalah terkuburnya nilai-nilai kemanusiaan, sudah tidak terhingga perbuatan anarkis dan tindak kekerasan meluluh lantahkan bangunan dan tempat-tempat berharga. Terlalu banyak tragedi kemanusian dan darah tertumpah karena angkara murka. Dengan mudah sebagian masyarakat kita menghabisi nyawa sesama. Ibu membunuh anaknya, anak membunuh bapaknya, rakyat menghujat pemimpinnya, pemimpin menindas rakyatnya, penegak hukum melanggar hukum dan lain sebagainya.

Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Hadirin yang mulia.

Qurban adalah usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, mematuhi dengan segala daya dan upaya semua yang diperintahkan dan dengan sekuat tenaga menjauhi laranganNya. Begitu juga dengan ibadah haji, yang merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim a.s beserta keluarganya. Sebagaimana ibadah-ibadah lain, ibadah haji bukanlah ibadah formal yang hanya di ukur dari pelaksanaannya semata, di samping nilai ubudiyah dan spiritualnya, ibadah haji juga merupakan sarana membentuk pribadi yang taat, tunduk, patuh dan rela diatur undang-undang Allah Swt, berakhlaq mulia dan berkepribadian luhur.

Ukuran ketaqwaan seseorang tidak hanya dilihat dari kualitas ibadahnya semata, tetapi yang sangat penting adalah aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Saw menyatakan, “Dan tidak ada pahala lain bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

Demikian, rangkaian hikmah dan pelajaran dari ibadah qurban. Semoga kita semua mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya mari kita berdoa dan mohon ampun pada Allah Swt, seraya memohon Rahmat-Nya…

Amin ya rabbal ‘alamin… [Majalah Tabligh edisi Dzulqaidah - Dzulhijjah 1433 H]]

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>